“Selama sang hamba berkeyakinan bahwa di antara makhluk ini ada orang yang lebih buruk darinya, berarti ia orang yang sombong.”
Seorang sufi sejati tak akan pernah menjawab pertanyaan, apakah dirinya seorang yang tawadhu? Karena jika ia menjawab bahwa dirinya tawadhu maka saat itu pulalah dia menjadi seorang yang takabur. Demikian tersembunyi dan sucinya adab batin ini hingga seseorang yang benar-benar tawadhu tak akan sedikitpun mengangkat dirinya selain merasa dirinya selalu berada dibawah. Jiwa, hati dan dirinya merunduk dengan penuh, sebagai buah kesadaran kefanaan diri dihadapan kemegahan kuasa Rabbnya.
Itulah pondasi dasar sifat tawadhu yang digambarkan Ibnu Athaillah dalam kitabnya al-Hikam. Sekalipun seseorang telah berusaha sekuat tenaga menjadi tawadhu lantas ia merasa memang sudah sampai pada derajat itu maka, menurutnya, anggapan itu tak lain hadir dari rasa diri yang meninggi yang karenanya membatalkan ketawadhuannya itu.
Tawadhu yang hakiki, menurut Ibnu Attaillah, lahir lantaran menyaksikan kebesaran Allah dan penyingkapan sifat-Nya. Kemegahan yang benar-benar nyata, kuasa yang benar-benar tanpa batas. Dari situlah keangkuhan keluar dari dalam diri salik dan tak tersisa sedikitpun. Ia kemudian tahu bahwa kemegahan kuasa Rabb-nya itulah yang paling berhak mendapat sanjungan, tak ada lain yang pantas, apalagi dirinya, apalagi kepentingan-kepentingannya
Seorang arif billah, seseorang yang benar-benar ingin menyingkap rahasia ketuhanan sekaligus mendapat paham akan kehambaan dirinya, wajib menjalankan adab batin ini. Allah swt juga sudah memerintahkan ini kepada mahkluk terbaiknya, Muhammad saw dalam firman-Nya.
“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.”(Qs. al-Hijr : 88)
Bagi kita, perintah ini juga datang dalam hal etika memperlakukan kedua orangtua. Setiap anak yang pastilah memiliki orangtua diperintahkan berendah diri dihadapan mereka.
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang” (Qs. al-Isra : 24)
Menurut Said Hawwa penjelasan tawadhu yang seperti ini pastilah memunculkan pertanyaan-pertanyaan di benak kita: Siapakah di antara makhluk ini yang bisa mengaktualisasika perilaku luhur ini? Yang masa bodoh dengan kepentingan dirinya? Yang melupakan segala perbuatannya? Siapa pula yang terus-menerus dapat menyaksikan kebesaran dan keagungan Allah, hingga esensi dan jati dirinya lenyap dalam keluhurannya?
Jawabnya pastilah sangat sedikit. Dari yang sedikit ini, sedikit pula yang hatinya bisa terus bertahan dalam hal seperti itu. Karena itu, sebagian adab yang harus dimiliki oleh seorang arif adalah, tak boleh beranggapan bahwa dirinya telah bertawadhu, sebab tawadhu yang sejati adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Ibnu ‘Athai’illah tersebut, dan itu pun jarang terjadi. Orang yang beranggapan bahwa dirinya telah tawadhu, telah sampai pada tingkatan fana dalam penyaksian kebesaran Allah, dan telah dapat keluar dari pemujian diri sendiri dan mengingat kepentingannya, sesungguhnya ia telah terperangkap dalam sikap takabur dan ‘ujub.
Karena itu para arif tidak beranggapan bahwa dirinya telah tawadhu, meski sebenarnya dengan begitu ia telah bertawadhu. Mereka menduga bahwa diri mereka berada di bawah standar dari apa yang mesti mereka perbuat, dan tidak di atasnya. Bila mereka memberi, mengasihi, menyayangi, atau menyantuni orang lain, mereka beranggapan bahwa apa yang tidak mereka lakukan itu sebenarnya masih berada di bawah patokan yang dituntut dari mereka.
Syaikh Ibnu ‘Athai’illah menuangkan ujaran berikut :
“Mutawadhi (orang yang tawadhu) bukan orang yang beranggapan bahwa dirinya berada di atas tingkatan apa yang telah diperbuatnya, namun sang mutawadhi’ adalah orang yang memandang dirinya berada di bawah apa yang telah di lakukannya.
Ringkasnya, para arif selalu berusaha untuk menyaksikan kebesaran perlindungan yang mereka dapatkan dari Tuhannya, seraya melupakan diri mereka, perbuatan, dan kepentingan mereka sendiri. Interaksi yang mereka bangun dengan kaum Mukminin dilakukan dengan tawadhu, dengan berendah diri, dan mereka beranggapan bahwa itulah tingkatan mereka yang hakiki.
Tak Marah, Tak Benci
Tentang ajaran tawadhu, Ibnu ‘Abbad mengomentarinya dengan pendapat Abu Sulaiman ad-Darani. “Seorang hamba tidak ber-tawadhu’ , sebelum ia mengenali dirinya sendiri.”
Abu Yazid berkata : “Selama sang hamba berkeyakinan bahwa di antara makhluk ini ada orang yang lebih buruk darinya, berarti ia orang yang sombong.” Ia ditanya : “Lalu kapan hamba itu menjadi orang yang tawadhu’?” Abu Yazid pun menjawab, “Manakala tidak melihat lagi tingkatannya. Tingkat tawadhu seseorang setara dengan kadar pengenalannya terhadap Rabb dan dirinya sendiri.”
Abu Sulaiman ad-Darani juga berkata, “Andai seluruh manusia bersepakat untuk menghinaku sebagaimana aku menghinakan diriku sendiri, niscaya mereka tak akan mampu. Aku tak akan sangsi tentang turunnya rahmat, selagi aku berada di tengah-tengah mereka.”
Dikatakan kepada Muhammad bin Muqattil, “Berdoalah kepada Allah untuk kami.” Maka ia pun menangis karena merasa rendah diriya padahal saat itu ia sedang ditinggikan manusia, ia berkata, “Semoga aku tidak menjadi sumber kehancuran kamu semua.”
Salah satu ciri bahwa seseorang benar-benar telah melaksanakan akhlak ini adalah, ia tak marah jika dicaci atau dicela, tak juga benci bila dicerca atau dituduh melakukan berbagai dosa besar. Dia juga sangat tidak menginginkan kemegahan dan kedudukan di sisi manusia. Selalu benar, jujur, dan tulus, meski keadaan hatinya selalu disanggah orang. Artinya, dia tidak beranggapan bahwa dirinya memperoleh kedudukan di hati mereka.
Perihal ini sebenarnya pernah diungkap oleh Syaikh Ibnu Athaillah dengan ungkapannya, “Tanamlah wujudmu di bumi ketidakterkenalan, sebab sesuatu yang tumbuh dari sesuatu yang tidak ditanam maka tak akan sempurna hasilnya.”
Syaikh Syarkawi juga berkata, “Walhasil, orang yang benar-benar tawadhu adalah orang yang tidak memastikan bahwa dirinya telah bertawadhu, sebab ia melihat kerendahan derajat dirinya, ketidakpopulerannya, dan kehinaannya.”
Asy-Syibli juga berkata, “Barang siapa yang memandang dirinya punya suatu nilai, berarti ia tak akan meraih bagian tawadhu
Nabi Muhammad saw bersabda dalam sebuah hadits riwayat Imma Muslim:
“Allah tidak menambahkan kepada seseorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu karena Allah kecuali Allah pasti mengangkat derajatnya.”
Ilmu dan Amal
Said Hawwa, mengutip penjelasan Al-Ghazali, menyebut dimensi ilmu dan amal merupakan elemen penting untuk menyadarkan jiwa agar bertawadhu. Latihan-latihan jiwa harus dilakukan agar ia tahu kerendahan dirinya yang sebenarnya. Said Hawwa menyebutkan terapi diskusi untuk menguji jiwa kita. Bila ia sadar bahwa teman diskusinya lebih benar namun hati masih berat mengakui dan mengucapkan terima kasih maka berarti sifat sombong masih berakar dalam dirinya. Dan jika ia dalam posisi benar dan memandang rendah teman diskusinya saat itu pula ia memperlihatkan ketakaburannya.
Jika dalam pertemuan ia tidak bisa mengutamakan orang lain dari pada dirinya, tak bisa memberi tempat lebih baik bagi orang lain, tak sudi berjalan di belakang orang lain, maka itu juga adalah tanda penyakit sombong masih ada dalam diri dan ketawadhuan masih jauh dalam jiwanya.
Terapi ini bisa dilanjutkan dengan memenuhi undangan orang miskin dan membelikan kebutuhan rumahtangga dan saudara-saudaranya. Jika ia masih berat melakukan itu, menurut Said hawwa, maka penyakit sombong masih ada pada dirinya. Memberi adalah perbuatan yang mulia dan berpahala besar sedang merasa diri hina jika memenuhi undangan orang miskin dan berat membelikan kebutuhan rumahtangga bagi saudaranya adalah bukti hati kita masih kotor.
Terapi sederhana lainnya dicontohkan Said hawwa dengan mencoba membawa sendiri barang belanjaan dari pasar. Ini pernah dicontohkan seorang ulama bernama Abdullah bin Salam. Ia mengangkat sendiri seikat kayu bakar dipundaknya, hingga orang bertanya mengapa ia melakukan itu padahal ia memiliki pembantu dan anak. Abdullah bin Salam lalu berkata, “Benar aku memiliki pembantu, tapi aku tak tahu, apakah diriku termasuk sombong, hingga berat melakukan pekerjaan seperti ini.”
Seorang Umar bin Abdul Aziz sangat layak kita jadikan figur ketawadhuan. Diriwayatkan ketika ia menerima seorang tamu lampu tiba-tiba padam. Tamu itu yang sadar Umar seorang khalifah langsung berusaha menghidupkan lampu itu kembali. Tapi umar mencegahnya termasuk mencegah tamu itu membangunkan pegawai istana. Dengan tangannya Umar mengambil minyak dan memperbaiki lampu itu sendiri. Ketika ditanya mengapa ia melakukan itu, Umar menjawab, “Ketika kamu datang aku adalah Umar dan ketika engkau pergi aku tetaplah Umar tak ada yang berubah pada diriku.”
Maka demikianlah. Apapun yang kita lakukan, jabatan apapun yang kita miliki, amal paling shaleh macam apapun yang kita lakukan, kita tetapklah manusia, makhluk lemah yang bersandar sepenuhnya pada rahmat dan ampunan sang Rahman. Waallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar