Jika Anda mengalami salah satu dari tiga hal berikut, berhati-hatilah dan segera ambil langkah. Karena ketiganya adalah alarm yang mengingatkan bahwa Anda bisa terjerumus ke dalam perselingkuhan.
1. Tidak puas terhadap suami/istri
Jika muncul perasaan tidak puas terhadap
suami/istri, baik dalam hal karakter, hubungan atau ‘kebijakan
keluarga’, berhati-hatilah. Sebab itu bisa menjadi alarm pertama.
Perasaan tidak puas, terutama yang
dilanjutkan dengan menjauhi dan menolak komunikasi, menjadi berbahaya
karena ‘menggoda’ agar kita mencari orang lain sebagai tempat
mencurahkan hati dan berbagi cerita. Fakta di lapangan mengatakan,
banyak perselingkuhan terjadi karena kurangnya perhatian yang juga
ditandai dengan minimnya komunikasi. Seorang konsultan keluarga pernah
bercerita bahwa ibu-ibu di sebuah pemda terlibat selingkuh bermula dari
kurangnya perhatian suami baginya.
Asma Nadia menyarankan agar alarm
pertama ini segera diatasi dengan mengambil langkah inisiatif. Yakni
dengan sesegera mungkin mengkomunikasikan dengan suami/istri. Boleh jadi
ia juga tengah mengalami ketidakpuasan yang sama dengan kita. Termasuk
dalam hubungan biologis, segera bicarakan. Rancang sebuah kondisi yang
santai untuk memecahkan kebekuan. Bisa di rumah, bisa pula di luar
rumah. Misalnya dengan makan malam yang special, tanpa gangguan orang
lain termasuk anak-anak.
2. Kecewa karena terluka
“Kau tak mengerti aku… yang pernah terluka…”
Kalau tidak salah begitu bunyi syair
sebuah lagu. Jika mendapati sikap suami/istri terkesan mencurigakan,
tidak menghargai atau pernah melakukan affair, wajar jika hati terluka.
Membalas keburukan dengan keburukan adalah yang tak baik. Apalagi dalam
berumah tangga. Lebih-lebih jika kecurigaan itu ternyata tidak benar.
Maka untuk alarm kedua ini, segera
komunikasikan dengan suami/istri mengenai kecurigaan kita. Tentu dengan
bahasa yang halus dan tidak bernada menghakimi.
Kalaupun kecurigaan itu benar-benar
terbukti, obati dengan memaafkan dan mengikhlaskan, jika kita masih
komitmen hidup berdua dengannya. Sampaikan kepadanya bahwa kita
memaafkannya, sekaligus meminta agar saling setia. Betapa banyak rumah
tangga yang hancur berantakan karena perselingkuhan dibalas
perselingkuhan. Dan betapa banyak keluarga yang kembali harmonis setelah
suami/istri yang bersalah tahu bahwa pasangannya sangat baik dan setia
dengan memaafkannya.
Jangan lupa berdoa. Sebab Allah-lah yang
menggenggam dan membolak-balikkan hati hamba-Nya. Dengan kehendak dan
kekuasaan-Nya, amat mudah bagi-Nya mengubah orang yang pernah bersalah
dan melukai hati menjadi orang yang paling setia dan mencintai
pasangannya.
3. Jatuh Cinta
Jatuh cinta kepada orang lain merupakan
hal yang sangat mungkin terjadi, bagi orang yang telah berkeluarga
sekalipun. Ia bisa datang kapan saja dan mengenai siapa saja. Pernikahan
bukan sebuah hal yang bisa menjamin secara pasti bahwa seseorang tak
mungkin jatuh cinta lagi.
Yang menjadi masalah adalah, jika jatuh
cinta itu dituruti. Inilah alarm ketiga yang sangat berbahaya. Yakni
ketika benih-benih cinta itu dibiarkan tumbuh, bahkan disiram dengan
pertemuan, atau dipupuk dengan imajinasi dan bayangan.
Lalu bagaimana mengatasinya agar cinta
yang datang itu bisa layu sebelum berkembang? Yang pertama, ingat Allah,
gunakan logika keimanan. Bagaimana akibatnya jika perasaan itu
dibiarkan liar. Kedua, ingat kebaikan suami/istri kita. Sebesar apapun
pesona ‘orang baru’ itu, ia belum teruji. Sementara suami/istri kita
telah teruji kesetiannya, tanggungjawabnya, kemampuannya membesarkan dan
mendidik anak, menemani kita di masa-masa paling sulit sekalipun, dan
seterusnya. Yakinkan diri bahwa seseorang terlihat ‘sempurna’ karena
kita belum pernah bersamanya. Jika kita telah hidup bersamanya, akan
terlihat jua kekurangannya. Sedangkan suami/istri kita, meskipun ada
kekurangannya, sesungguhnya ada sekian banyak kelebihannya. [Disarikan
dari Sakinah Bersamamu karya Asma Nadia]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar