Rabu, 25 April 2012

SEPULUH SEBAB PENGHAPUS DOSA



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ

Nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah telah menunjukkan bahwa hukuman dosa (siksa) dapat dihapuskan dari seorang hamba dengan sepuluh sebab berikut ini :


1. Taubat Nasuha.

Yaitu taubat yang sebenar-benarnya taubat, maka ia (taubat nasuha) dapat meleburkan dosa sebelumnya.
Dan Allah Subhanahu Wata'ala Maha menerima taubat hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat kepadaNya.
Dan orang yang bertaubat dari segala dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya:
“Dan DIA-lah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Asy-Syura: 25).

Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman, artinya:
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman, sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-A’raf: 153).


2. Beristighfar.

Yaitu memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Sesungguhnya Allah akan mengampuni hamba-hamba-Nya yang meminta ampunan (beristighfar) kepada-Nya.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya:
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa`: 110).

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman, artinya:
“Dan Tidak-lah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”
(QS. Al-Anfal: 33).

Begitu juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, artinya:

“Wahai anak cucu Adam (manusia) seandainya dosa-dosa-mu setinggi awan di langit, lalu kamu meminta ampun kepada-KU, niscaya AKU akan mengampuni dosa-dosa-mu.”
(HR. at-Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”)

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman dalam hadits qudsi, artinya:
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan (dosa) di waktu malam dan siang hari, sedangkan AKU-lah yang dapat mengampuni semua dosa, maka mohon ampun-lah kalian kepada-KU niscaya AKU akan mengampuni dosa kalian.”
(HR. Imam Muslim).


3. Kebaikan-kebaikan menghapuskan dosa-dosa.

Seperti shalat, shadaqah, puasa, haji, membaca Al-Qur`an, berdzikir kepada Allah, berdo’a, beristighfar, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silatur rahim, dan lain-lain.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya:
“Dan dirikan-lah Shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan dari-pada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itu-lah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”
(QS. Huud: 114).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
“Shalat-shalat yang lima waktu, Jum’at ke Jum’at, Ramadhan ke Ramadhan dapat meleburkan dosa diantara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhkan.”
(HR. Imam Muslim).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:
“Dan ikuti-lah perbuatan buruk/kejahatan dengan perbuatan yang baik, niscaya dia menghapuskannya.”
(HR. at-Tirmidzi dan dia menghasankannya).

Sesungguhnya satu kebaikan dilipat gandakan balasannya sampai sepuluh kali lipat, ada-pun keburukan akan dibalas yang serupa dengannya.
Maka celaka-lah bagi orang yang berguguran (kalah) satu persatu dari sepuluh sebab tersebut.


4. Doa orang-orang yang beriman.

Maksudnya mereka memohon ampunan (kepada Allah, pen.) untuk orang yang beriman (lainnya) baik ketika hidup mau-pun setelah mati dan khususnya pada saat ketidak beradaannya (tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, pen.) dan begitu juga doanya atas saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak hadir (tanpa sepengetahuannya, pen.) adalah mustajab, di samping kepalanya terdapat malaikat, setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat yang diutus berkata, ‘Aamiin, dan bagimu sepertinya (seperti orang yang didoakan, pen.).”
(HR. Imam Muslim).


5. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan/diniatkan untuk si mayyit.

Seperti shadaqah; puasa, haji, membebaskan budak, dan yang lainnya.

Para ulama berpendapat:
“Amal shalih apa-pun (yang dapat mendekatkan diri kepada Allah) yang dia kerjakan dan dia peruntukkan pahalanya untuk seorang muslim baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal, maka hal itu bermanfaat baginya.”

Dan yang lebih utama adalah mencukupkan dalam hal tersebut pada apa yang dijelaskan/ditetapkan oleh nash-nash
(Al-Qur`an dan As-Sunnah).


6. Syafa’at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan selainnya.

Maksudnya adalah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan selain beliau akan memberikan syafa’at kepada orang-orang yang berbuat dosa pada hari Kiamat dengan izin Allah Subhanahu Wata'ala sebagaimana hal tersebut ditetapkan di dalam hadits-hadits shahih.


7. Musibah-musibah.

Dengannya lah Allah Subhanahu Wata'ala menghapuskan dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan (yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya, pent.) di dunia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Ash-Shahihain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah orang yang beriman ditimpa penyakit yang terus menerus dan tidak pula rasa cemas, rasa sedih, rasa susah dan rasa sakit, sampai-sampai duri yang menusuk kecuali Allah menghapuskan dengannya dari dosa-dosa/ kesalahan-kesalahannya.”
(HR. Al-Bukhari dan Imam Muslim).


8. Apa yang didapatkan oleh seorang hamba ketika di dalam kubur.

Yakni berupa fitnah, himpitan liang kubur, kengerian, maka ini semua di antara yang dapat menghapuskan dosa-dosa.


9. Rasa takut, kesusahan serta kengerian terhadap kedahsyatan hari kiamat.


10. Rahmat Allah Subhanahu Wata'ala

Sesungguhnya karena rahmat Allah Subhanahu Wata'ala, semua hamba mendapatkan maaf dan ampunan-Nya tanpa sebab, maka Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, sebagaimana Allah berfirman, artinya:

“Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu.”
(QS. An-Nisa`: 48 dan 116).

Dan DIA-lah yang Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya dan sungguh rahmat Allah Subhanahu Wata'ala meliputi segala sesuatu.
(Abu Nabiel).


(Sumber: Diterjemahkan dari kitab, “An-Nuqath al-’Asyru adz-Dzahabiyah” Karya: Syaikh Abdur Rahman bin Ali ad-Dausary)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar