Rabu, 20 Juni 2012

Berakhlak dengan Nama-Nama Allah

 


Bagi para sufi, berakhlak dengan nama-nama Allah swt (takhalluq) merupakan sebuah peningkatan bagi perjalanan jiwa. Fase ini juga bisa dikatakan fase aplikasi setelah proses-proses penyucian jiwa dengan membuang tabiat-tabiat buruk dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan. Takhalluq tak lain adalah meneladani Allah swt dengan segala sifat-sifat mulia-Nya.

Sifat dan nama Allah swt kita kenal dengan sebutan Asma'ul Husna. Dalam sifat itu ada beberapa sifat yang juga bisa disematkan kepada sifat-sifat manusia, seperti: mendengar (sama’), melihat (bashar), berbicara (kalam), mengetahui (Urn), berkehendak (iradati), berkuasa (qudrati), dan hidup (hayy). Asma'ulhusna dapat juga disematkan kepada sifat manusia secara maknawi, seperti: mulia (karim), dermawan (juud), murah hati (hilm), kasih sayang (ra'fah), sabar (shabr), syukur, adil, dan penyayang (rahmah).

Menurut para sufi, takhaluq' dengan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam asma'ul husna adalah dengan menyerap makna-makna asma'ul husna ke dalam dirinya. Bagi siapa saja yang telah menyerap sifat-sifat Allah ke dalam dirinya maka merupakan peningkatan diri (irtiqa').

Namun ada sifat yang boleh diserap seorang hamba dan ada yang tidak. Menyerap sifat Allah yang ada dalam diri kita juga memiliki batasan-batasan sebab Allah berkedudukan sebagai Tuhan dan manusia sebagai makhluk. Allah mendengar dengan pendengaran yang tak terbatas sementara manusia terbatas. Allah melihat tanpa penghalang sementara pandangan manusia dipenuhi berbagai tabir. Demikianlah seterusnya.

Jadi manusia tetap sebagai hamba Allah yang harus mengerjakan apa yang diperintahkan (taklif), sedangkan Allah adalah Tuhan yang tidak dimintakan pertanggung-jawaban atas apa yang telah dilakukan-Nya. Allah memiliki sifat murah hati, begitu pula manusia, akan tetapi Allah akan bersifat murah hati kepada siapa yang dikehendaki dengan tidak ada kewajiban atau tuntunan bagi-Nya.

Sedangkan manusia harus menggunakan sifat murah hatinya kepada hal-hal yang dibenarkan dan ia tidak dibenarkan untuk bersifat murah hati kepada hal-hal yang diharamkan oleh Allah, seperti bersifat murah hati kepada kemaksiatan, karena kondisi seperti ini tidaklah dibenarkan.
‘ “Ingatlah selalu akan sifat-sifat Rububiyah Allah swt dan bergantunglah kepada-Nya, dan ingatlah sifat-sifat kehambaanmu dan lakukanlah sungguh-sungguh penghambaan itu.” (Ibnu Athaillah)


Tak Ada yang Setara dengan Dia

Menurut Said Hawwa, ada hal-hal penting yang mesti diperhatikan dalam pembahasan takhalluq bi asma'u lillah, berakhlak dengan nama-nama Allah.

Di dalam surah al-Ikhlas terdapat lima sifat Allah yang hanya dimiliki oleh Allah saja (salbiyyati), yaitu: Maha Esa (wahdaniyyati), Pertama (awwaliyyati) dan Terakhir (qidarri), Azali dan Kekal (baqa ), Berdiri sendiri (qayyuni) dan tidak memerlukan siapa-siapa (istighna), dan Tidak ada yang menyerupai-Nya.

Kelima sifat Allah di atas tidak mungkin dimiliki oleh makhluk-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang dapat disifati "Esa" (wahdaniyyati) karena setiap suatu itu berbilang atau mungkin dapat berbilang, tersusun atau mungkin dapat disusun. Tidak ada sesuatu pun yang sifat-Nya pertama dan terakhir karena pasti memiliki permulaan dan akhir. Tidak ada sesuatu pun yang sifat-Nya kekal abadi karena pasti mendapatkan kepunahan. Tidak ada sesuatu pun yang berdiri sendiri karena pasti memerlukan orang lain; dan tidak ada yang keberadaannya tidak memiliki tandingan karena pasti memiliki tandingan. Hanya Allahlah yang dapat disifatkan dengan sifat-sifat tersebut.

Sebagian makna asma'ul husna menunjukkan sifat-sifat ketuhanan yang tidak boleh dikenakan kepada hamba-Nya, seperti keagungan ('azhamah), kesombongan (kibriya), dan ketuhanan (rabb). Dalam hadits qudsi disebutkan,

"Kesombongan adalah selendang-Ku, Keagungan ('azhamah) adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang melawanku atas keduanya maka akan Aku binasakan.”

Manusia yang paling tinggi menerapkan sifat-sifat Allah (takhalluq) dan menyerap sifat-sifat mulia (tahaqquq) dalam dirinya adalah Rasulullah saw. Oleh karena itu, seseorang harus berusaha sekuat tenaga untuk menyerap sifat-sifat Rasulullah karena dalam diri beliau merupakan perpaduan antara takhalluq (penyerapan sifat-sifat Allah) dan sifat manusia karena kedudukannya sebagai hamba Allah.

Allah berfirman, "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. at-Taubah [9]: 128).

Dari perkataan ini dapat kita simpulkan bahwa seorang yang mengikuti Rasulullah pasti ia akan sampai kepada kesempurnaan, sedangkan orang yang mencari jalan dengan tidak mengikuti Rasulullah pasti ia akan tergelincir pada kesesatan.

Tidak dikatakan ia telah benar-benar mengikuti Rasulullah dalam hal tahaqquq dan takhalluq kecuali dengan banyak berzikir, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an,

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah (zikir)." (QS. al-Ahzab [33]: 21)

Untuk dapat menyerap akhlak Rasulullah dalam diri kita, memerlukan pengetahuan tentang al-Qur’an, hadits, dan sejarah Nabi (sirah). Karena, akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an, dan seluruh akhlak mulia yang terdapat dalam al-Qur’an merupakan akhlak dari Rasulullah, dan dari seluruh sejarah hidup Rasulullah tecermin kesempurnaan akhlaknya.

Dan, hal yang paling penting untuk diikuti dari sifat-sifat beliau adalah: jujur (shidq), amanah, menyampaikan (tabliqh), dan cerdas (fathanah). Setiap salik akan meneladani ini dengan tak pernah berdusta, senantiasa memegang amanah kebaikan dan menyampaikan segala hal yang menjadi manfaat bagi orang lain, termasuk ilmu, dan ia juga adalah sosok yang cerdas yang senantiasa haus akan hikmah bagi jiwanya.

Selasa, 19 Juni 2012

Bagaimana Jika Telat Sholat Subuh?

 
Inilah kondisi sebagian kaum muslimin saat ini. Sedih banget hati ini melihat sebagian saudara kami sudah terbiasa dengan aktivitas semacam ini.

Sudah jadi kebiasaan memang, bangun di pagi hari pada saat matahari sudah meninggi. Setelah bangun langsung bergegas mandi dan mulailah dia bersiap-siap ke kantor, ke kampus atau ke tempat kuliah, luputlah shalat shubuh darinya. Ini bukanlah kita temui pada satu atau dua orang saja, namun kebanyakan kaum muslimin seperti ini. Mungkin ada yang lebih parah lagi, tidak mengerjakan shalat sama sekali selama hidupnya (dia mengaku beragama Islam dalam KTP) atau dalam mayoritas waktu yang Allah berikan, dia lalai atau meninggalkan shalat lima waktu.

Rasanya air mata ini mau menetes melihat sebagian saudara kami seperti ini. Semua orang pasti sudah tahu bahwa shalat lima waktu itu wajib, bahkan orang kafir pun tahu bahwa umat Islam memiliki kewajiban semacam ini. Kami tidak mungkin menegur langsung satu per satu orang yang lalai dari shalat shubuh setiap harinya atau yang lalai dari shalat 5 waktu yang lain. Karena ada juga yang tidak kami kenal. Kami cuma berharap agar setiap orang yang membaca tulisan ini bisa menyampaikan kepada kerabat, sahabat atau saudara muslim lainnya. Semoga dengan penyampaian Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) berikut, di antara saudara kita bisa terbuka hatinya dan mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Berilah peringatan, sesungguhnya peringatan akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Fatwa Pertama (Pertanyaan ke-12 dari Fatwa no. 7942, 6/15)

Pertanyaan : Apa hukum orang yang sengaja mengatur waktu bangun paginya yaitu mayoritas waktunya dia bangun setelah matahari terbit, lalu dia shalat shubuh setelah matahari terbit? Dia mengatur seperti ini karena dia memiliki hajat lembur (begadang) di malam hari untuk mengulang pelajaran. Apakah orang seperti ini wajib diingkari?

Jawab :
Wajib bagi kita menunaikan shalat wajib pada waktu yang telah ditentukan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’ : 103)

(Perlu diperhatikan bahwa) waktu shalat shubuh adalah mulai dari terbit fajar kedua (fajar shodiq) hingga terbit matahari. Lalu alasan yang engkau sampaikan tadi (karena alasan belajar di malam hari hingga semalam suntuk, pen) bukanlah alasan untuk mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya. Namun, seseorang hendaklah mencari sebab agar dia bisa bangun pagi agar dia bisa mengerjakan shalat (Shubuh) di waktunya. Jika orang tersebut tidak melakukan kewajiban semacam ini (mencari sebab tadi, pen), maka dia wajib diingkari. Namun ingatlah, hendakah kita mengingkarinya dengan cara yang penuh hikmah.
Semoga kita selalu mendapatkan taufik Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, pengikutnya dan para sahabatnya.
Ketua Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’ : Abdul ‘Azizi bin Abdullah bin Baz

Fatwa Kedua (Pertanyaan pertama dan kedua dari Fatwa no. 8371)

Pertanyaan pertama : Ada seseorang mengerjakan shalat shubuh setelah matahari terbit dan ini sudah jadi kebiasaannya setiap paginya dan hal ini sudah berlangsung selama dua tahun. Dia mengaku bahwa tidur telah mengalahkannya karena dia sering lembur. Dia mengisi waktu malamnya dengan menikmati hiburan-hiburan. Apakah sah shalat yang dilakukan oleh orang semacam ini?
Pertanyaan kedua : Apakah boleh kita bermajelis dan tinggal satu atap dengan orang semacam ini? Kami sudah menasehatinya namun dia tidak menghiraukan.

Jawab :

Diharamkan bagi seseorang mengakhirkan shalat sampai ke luar waktunya. Wajib bagi setiap muslim yang telah dibebani syari’at untuk menjaga shalat di waktunya –termasuk shalat shubuh dan shalat yang lainnya-. Dia bisa menjadikan alat-alat pengingat (seperti alarm) untuk membangunkannya (di waktu shubuh).

Kita diharamkan lembur di malam hari untuk menikmati hiburan dan semacam itu. Lembur (begadang) di malam hari telah Allah haramkan bagi kita jika hal ini melalaikan dari mengerjakan shalat shubuh di waktunya atau melalaikan dari shalat shubuh secara jama’ah. Hal ini terlarang karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang begadang setelah waktu Isya’ jika tidak ada manfaat syar’i sama sekali.
(Perlu diketahui pula bahwa) setiap amalan yang dapat menyebabkan kita mengakhirkan shalat dari waktunya, maka amalan tersebut haram untuk dilakukan kecuali jika amalan tersebut dikecualikan oleh syari’at yang mulia ini.
Jika memang keadaan orang yang engkau sebutkan tadi adalah seperti itu, maka nasehatilah dia. Jika dia tidak menghiraukan, tinggalkan dan jauhilah dia.
Semoga kita selalu mendapatkan taufik Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, pengikutnya dan para sahabatnya.
Ketua Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’ : Abdul ‘Azizi bin Abdullah bin Baz

Kemudian dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah yang lain (no. 7976) dijelaskan bahwa jika seseorang sengaja tidur sehingga lalai dari shalat dan ketika bangun tidur dia pun sengaja meninggalkan shalat, hal ini dilakukan berkali-kali (bukan hanya sekali); atau mungkin pula dia mengerjakan shalat ketika dia bangun tidur namun di luar waktunya, maka orang-orang semacam ini sama saja dengan orang-orang yang meninggalkan shalat. Juga termasuk orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang sengaja tidur dan tidak mau menunaikan shalat di waktunya, dia tidak mengambil sebab untuk bangun di pagi harinya agar bisa mengerjakan shalat tepat waktu. –Demikian maksud dari Fatwa Lajnah-

Saatnya Menarik Pelajaran

Orang yang lalai dari shalat shubuh mungkin ada beberapa sebab. Mungkin karena ingin mengulang pelajaran, seperti persiapan kebut semalam (SKS = sistem kebut semalam) yang dilakukan oleh para pelajar atau mahasiswa ketika besok paginya akan menghadapi ujian. Atau mungkin pula karena ada kerjaan yang harus dilembur hingga larut malam. Atau mungkin pula karena malamnya diisi dengan menikmati hiburan seperti di night club dan semacamnya. Atau mungkin pula hal tersebut sudah menjadi kebiasaannya, apalagi sudah diseting (diatur) dengan alarm untuk bangun di pagi pagi pada pukul 6, dan ini sudah rutin setiap harinya. Jika memang alasan-alasannya seperti ini dan dilakukan rutin, tanpa mengambil sebab untuk bangun pagi, maka ini sama saja dengan meninggalkan shalat.
Ingatlah bahwa meninggalkan shalat bukanlah perkara sepele. Dosanya bukan dosa yang biasa-biasa saja. Perlu diketahui bahwa dosa meninggalkan shalat adalah termasuk dosa besar yang paling besar, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama berikut ini.

Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, mengatakan, ”Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”
Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir (pembahasan dosa-dosa besar), hal. 25, Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.”
Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, hal. 26-27, juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”
Semoga juga kita merenungkan hadits-hadits berikut ini yang menunjukkan besarnya dosa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan karena malas-malasan.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)
Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, ”Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574)

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566)
Oleh karena itu, orang-orang yang meninggalkan shalat seperti yang kami contohkan di atas haruslah bertaubat dengan penuh penyesalan, bertekad tidak akan mengulanginya lagi dan dia harus kembali menunaikan setiap shalat pada waktunya.

Namun, kalau bangun di pagi hari ketika matahari terbit tidak menjadi kebiasaan, maka dia harus mengerjakan shalat tersebut ketika dia ingat atau ketika dia bangun dari tidurnya.
Kita dapat melihat hal ini dalam hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang lupa atau tertidur dari shalat, maka kafaroh (tebusannya) adalah dia shalat ketika dia ingat.” (Muttafaqun’ alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Lihat Misykatul Mashobih yang ditahqiq oleh Syaikh Al Albani)
Dari Abu Qotadah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ليس في النوم تفريط إنما التفريط في اليقظة . فإذا نسي أحدكم صلاة أو نام عنها فليصلها إذا ذكرها فإن الله تعالى قال : ( وأقم الصلاة لذكري )

“Jika seseorang tertidur, itu bukanlah berarti lalai dari shalat. Yang disebut lalai adalah jika seseorang dalam keadaan sadar (sudah terbangun). Jika seseorang itu lupa atau tertidur, maka segeralah dia shalat ketika dia ingat. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tunaikanlah shalat ketika seseorang itu ingat.” (QS. Thaha : 14).” (HR. Muslim. Shohih. Lihat Misykatul Mashobih yang ditahqiq oleh Syaikh Al Albani)

Bagaimana Mengerjakan Shalat Ketika Matahari Terbit padahal Terdapat Larangan Mengenai Hal Ini?

Dijelaskan dalam Fatwa Lajnah no. 5545 bahwa jika seseorang tertidur sehingga luput dari shalat shubuh, dia terbangun ketika matahari terbit atau beberapa saat sebelum matahari terbit atau beberapa saat sesudah matahari terbit; maka wajib baginya mengerjakan shalat shubuh ketika dia terbangun, baik matahari terbit ketika dia sedang shalat atau ketika mau memulai shalat matahari sedang terbit atau pun memulai shalat ketika matahari sudah terbit, dalam kondisi ini hendaklah dia sempurnakan shalatnya sebelum matahari memanas. Dan tidak boleh seseorang menunda shalat shubuh hingga matahari meninggi atau memanas.

Adapun hadits yang menyatakan larangan shalat ketika matahari terbit karena pada waktu itu matahari terbit pada dua tanduk setan (HR. Muslim), maka larangan yang dimaksudkan adalah jika kita mau mengerjakan shalat sunnah yang tidak memiliki sebab atau mau mengerjakan shalat wajib yang tidak disebabkan karena lupa atau karena tertidur. –Demikian maksud dari Fatwa Lajnah-
Oleh karena itu, jika memang kita lupa atau tertidur sehingga luput menunaikan shalat wajib, maka tidak terlarang kita mengerjakan shalat ketika matahari terbit. Wallahu a’lam bish showab.

Ya Allah, jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang selalu ta’at kepada-Mu.



Senin, 18 Juni 2012

Replika Baju Nabi Adam




Baju tersebut hanyalah replika dibuat di Jeddah, Arab Saudi. Sekadar untuk melihat setinggi manakah rupa bentuk Nabi Adam A.S.
Seorang pemuda Saudi Hamdan al Mas’udiy melakukan sebuah proyek pembuatan baju Bapak kita, Nabi Adam ‘Alaihissalam. Ide itu muncul setelah membaca sirah Nabi Adam ‘Alaihisalam.. Lalu dia melakukan proyek tersebut berdasarkan apa yang disebutkan dalam sirah dan hadits-hadits Nabi yang menjelaskan bahwa tingginya adalah 60 hasta ((1 Kaki = 30 cm, 1 hasta = 1,5 kaki, jadi 60 hasta = 90 kaki = 30 meter). Maka diapun ingin membuat baju dengan ukuran bapak kita Adam agar manusia bisa mengetahui ukuran Nabi Adam yang sebenarnya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah menciptakan Adam dan tingginya 60 dzira’ (hasta). Kemudian Allah berfirman kepada Adam: ‘Pergilah, ucapkan salam kepada mereka para malaikat. Lalu dengarlah salam mereka kepadamu, sebagai salammu dan salam keturunanmu!’ Maka Adam berkata: ‘Assalamu’alaikum.’ Malaikat-malaikat Allah menjawab: ‘Assalaamu’alaika warahmatullah’ –mereka menambahnya dengan ‘warahmatullah’. Maka semua orang yang masuk jannah (tinggi badannya) seperti Adam. Dan manusia terus menerus berkurang (ketinggiannya) hingga saat ini.”[ Hadits shahih muttafaqun ‘alaihi]
Berikut ini rincian penjahitan baju tersebut:
Lama penjahitan baju itu adalah 18 hari.
Adapun jumlah gulungan kain yang digunakan dalam penjahitan pakalan itu adalah 40 gulungan dan 30 ribu gulungan benang.
Adapun panjang pakaian itu seperti berikut ini:
Panjang pakaian: 29 m
Lebar antara dua pundak 9 m, lebar dan bawah adalah 12 m
Panjang lengan 10 m, lingkar leher 6 m - kerahnya (diameter lingkar leher) 2 m.
Pemiliki ide ini dibantu oleh 4 orang penjahit. Pakaian itu diletakkan di salah satu lappangan di depan pintu gawang agar orang-orang yang melihat bisa mengkhayalkan bagaimana tubuh bapak kita Adam Alaihi salam.

Kamis, 14 Juni 2012

Subhanallah, Ternyata Shalat Membuat Kita Sehat


Judul diatas disampaikan oleh staf pengajar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Sagiran Mkes SpB yg telah melakukan penelitian mengenai masalah gerakan shalat. Dari penelitian tersebut terungkap bahwa setiap tahapan yang berlangsung dalam gerakan ibadah shalat, memberi manfaat kesehatan bagi orang yang melaksanakannya. ''Tapi tentunya bila setiap tahapan gerakan ibadah shalat yang dilaksanakan, sesuai dengan tuntunannya. Kalau tidak sesuai, saya tidak tahu apakah ada manfaatnya atau tidak, karena saya tidak meneliti gerakan shalat yang tidak sesuai dengan tuntunan,'' kata penulis buku ' Mukjizat Gerakan Shalat', saat tampil sebagai pembicara seminar di Masjid.
''Saya menguraikan manfaat dari gerakan shalat, bukan berarti menganjurkan orang melaksanakan shalat agar menjadi sehat. Bukan seperti itu. Shalat ada tetap merupakan kewajiban ibadah seorang muslim yang harus dilaksanakan. Saya hanya hendak mengungkapkan bahwa gerakan shalat, secara tidak langsung memiliki makna kesehatan bagi orang yang melaksanakannya,'' kata dr Sagiran Mkes SpB, staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Sagiran menjelaskan bahwa gerakan awal shalat yang ditandai dengan 'Takbiratul Ihram' hingga 'Salam' yang mengakhiri rangkaian ibadah shalat, seluruhnya merupakan memiliki rangkaian gerakan ibadah yang memberi manfaat bagi kesehatan.


Takbiratul Ihram

Dalam Takbiratul Ihram yang ditandai dengan mengangkat kedua telapak tangan hingga keduanya sejajar dengan telinga kanan-kiri, memberi manfaat kesehatan pada organ tubuh paru-paru, sekat ringga dada dan kelenjar getah bening.
Sagiran menjelaskan ketika tangan terangkat maka rusuk akan ikut terangkat sehingga menimbulkan pelebaran rongga dada. Pada saat itu, seharusnya udara nafas akan masuk. Tetapi orang yang akan memulai shalat ternyata harus mengucapkan Allahu Akbar, sehingga memaksa udara harus mengalir keluar. Hal ini menyebabkan sekat rongga dada (diafragma) menjadi terlatih.
Selain itu, ketika tangan terangkat maka ketiak pun akan terbuka. Padahal ketiak merupakan induk atau stasiun dari peredaran kelenjar getah bening (limfe) di seluruh tubuh. Dengan gerakan takbir yang berulang-ulang dalam gerakan shalat, maka secara tidak langsung melakukan active pumping kelenjar getah bening ke seluruh tubuh.
Setelah takbiratul ihram, maka kemudian kedua telapak tangan akan diletakkan di atas dada. Dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas dada, maka bahu kanan-kiri otomatis akan terangkat dan ketiak sebagai stasiun peredaran limfe akan tetap terbuka.


Ruku'
Dalam gerakan ruku, yang benar posisi punggung, leher dan kepala harus membentuk haris horisontal. Dengan posisi ini, berat badan bergeser ke depan, sehingga terjadi relaksasi atau peregangan ruas tulang belakang. Relaksasi ini sangat bermanfaat untuk memelihara tulang belakang yang selalu terkompresi.

''Tapi adanya relaksasi ruas tulang belakang ini hanya dialami bagi orang yang melaksanakan ruku dalam waktu yang cukup. Bagi orang yang shalatnya dilaksanakan dengan buru-buru, manfaatnya mungkin tidak akan terlalu terasa,'' tambah dr Sagiran.



Sujud
 
Sedangkan dalam gerakan sujud, memberi manfaat bagi daya tahan pembuluh darah di otak. Posisi kepala yang lebih rendah dari jangtung, menyebabkan darah menumpul di pembuluh darah otak. Hal ini secara tidak langsung melatih pembuluh darah di otak seorang muslim, agar tidak mudah terserang stroke. ''Jadi bisa dikatakan, gerakan sujud ini merupakan gerakan anti stroke,'' katanya.


Duduk Antara Dua Sujud
Kemudian, gerakan duduk di antara dua sujud, ternyata memperkuat jantung berikut sistem sirkulasi darah di seluruh bagian tubuh. Sagiran mengungkapkan bahwa saat seorang muslim yang melaksanakan ibadah shalat berada dalam posisi duduk di antara dua sujud, ternyata aliran darah seseorang tidak akan sampai ke bagian kedua kaki bagian bawah.
''Saat saya ukur, saturasi darah pada jari kaki orang yang sedang duduk di antara kedua sujud, ternyata nol. Denyut nadi tidak terasa sama sekali, saat orang dalam posisi duduk seperti ini,'' jelasnya.

Hal ini ternyata secara tidak langsung melatih jantung berikut urat-urat nadi seseorang. ''Seperti air kran yang mengalir melalui selang, bila selang secara berulang-ulang dipencet-dibuka berulang-ulang, secara tidak langsung hal ini akan membuat selang menjadi lebih elastis, sekaligus membersihkan kotoran yang terdapat dalam selang,'' katanya.
Terakhir, gerakan salam yang ditandai dengan menolah ke kanan dan ke kiri hingga kedua pipi terlihat oleh orang yang berada di belakangnya, ternyata menimbulkan relaksasi pada otot dan tulang leher. Di leher, terdapat banyak sekali jaringan sistem syaraf dan juga pembuluh darah yang menghubungkan kepala dan baguan badan.


Salam
Gerakan salam ini, secara tidak langsung akan menghindarkan seseorang untuk mengalami ganggian syaraf,'' jelasnya.
Subhanallah, ternyata selain mendapatkan ketenangan hati dan kenikmatan berjumpa dengan Allah dalam shalat khusyu’, kita juga akan mendapatkan manfaat yang secara tidak langsung membuat tubuh kita menjadi sehat. Wallohua’lam

Jadi secara ilmiah shalat bisa menjadikan kita lebih sehat, sebagaimana dlu Rasulullah di kenal sebagai seorang yg paling sehat dan tidak pernah sakit pada masa kerasulannya, asal cara shalat kita sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw, sebagaimana dalam sabda beliau : "Shalatlah, sebagaimana kalian melihat aku shalat" [Derajat hadits Shahih HR Bukhari 631;6008;7246, HR Ad-Darimi I/286, Ibnu Khudzaimah 397, dsb dari sahabat Malik bin al-Huwairits radiallahu'anhu. (*)

Doa Para Nabi dan Rasul



Setidaknya ada empat alasan kenapa kita perlu berdoa.
(1). Doa sebagai sarana dzikir. Allah menyuruh kita berdoa agar kita ingat kepada-Nya. Dengan mengingat Allah, hati jadi tenang dan ini kunci menjalani hidup dengan benar, bijaksana dan bahagia. QS Ar Ra’d 28: orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.
(2). Sadar posisi kita sebagai ciptaan (hamba) dan Allah sebagai Pencipta. Memahami hakikat penghambaan, akan menjadikan kita rendah hati menjauhi sikap sombong, malas, dan menghindari bergantung kepada selain Allah.
(3). Doa adalah pernyataan keinginan dan diteruskan dengan ikhtiar agar tercapai. Maka doa yang benar harus yang disertai dengan ikhtiar yang paling maksimal. Itulah garis perjuangan manusia yang harus dilakukannya: beriman dan beramal saleh.
 (4). Doa adalah energizer. Pada saat berdoa, maka muncul harapan, dan harapan akan melahirkan semangat.

Dalam kitab Al Quran, kita akan mendapatkan banyak contoh doa saat para Nabi bermunajah kepada Allah SWT, berikut contoh doa tersebut dan sangat bagus untuk kita amalkan.

Doa Nabi Adam As

“RABBANA DHZOLAMNA ANFUSANA WAILAM TAGFIRLANA WATARHAMANA LANA KUNNANA MINAL KHOSIRIN “
Ya Allah , kami telah menzlimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi.

ALLAAHUMMA INNAKA TA’LAMU SIRRII WA ‘ALAANIYYATII FAQBAL MA’DZIRATII WA TA’LAMU HAAJATII FAKTHINII SUKLII

Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu apa yg saya rahasiakan dan tidak saya rahasiakan maka terimalah permintaan ampunan saya dan Engkau tahu hajatku maka kabulkanlah permintaanku

WA TA’LAMU MAA FII NAFSII FAGHFIR LII DZUNUUBII
dan Engkau tahu apa yang ada dalam jiwaku maka ampunilah dosa-dosaku.

ALLAAHUMMA INNII AS’ALUKA IIMAANAN YUBASYIRU QALBII
Ya Allah, aku meminta kepadaMU iman yang menancap di kalbu

WA YAQIINAN SHAADIQAN
dan -aku minta kepadaMU- keyakinan yang sejati

HATTAA A’LAMU ANNAHUU LAA YUSHIIBUNII
hingga saya tahu bahwa tiada yang menimpa diriku

ILLAA MAA KATABTAHU ‘ALAYYA
kecuali apa yang telah Engkau takdirkan atasku

WARRIDHAA BIMAA QASAMTAHU LII
dan -aku minta kepadaMU- rela dengan apa yang telah Engkau bagikan

YAA DZAL JALAALI WAL IKRAM
wahai Dzat Yang Maha Agung dan Mulia

Doa ini biasa dipakai oleh jamaah haji yang sedang thawaf. KONON, Pada saat Nabi Adam hendak bertobat, sebelumnya beliau thawaf dulu 7 kali, lantas sholat 2 rokaat. Nabi Adam bertobat sambil memanjatkan doa ini.

Doa Yunus As saat di dalam perut ikan paus :

LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MIN AL-DZAALIMIIN
Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang dzalim. Al-Anbiya’: 87

Doa Nuh As

“RABBI INNI AUDZUBIKA AN AS ALAKA MAA LAISALLI BIHI ILMUN WA ILLAM TAGFIRLI WATARHAMNI AKUM MINAL KHOSIRIN “ (surat Hud; 47)
Ya Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sesuatu yang aku tidak mengetahui hakekatnya, dan sekiranya tidak Engkau ampuni dan belas kasih niscaya aku termasuk orang – orang yang merugi

Doa Ibrahim As

“RABBANA TAQOBAL MINNA INNAKA ANTA SAMI’UL ALIM WA TUB ALAINA INNAKA ANTAT TAWWABURROKHIM “ (al baqarah; 128-129)
Ya Tuhan kami terimalah amalan kami sesungguhnya Engkau maha mendengar dan Mengetahui, dan termalah taubat kami, sesungguhnya Engkau penerima taubat lagi Maha Penyayang.

“RABBI JA ALNI MUQIMAS SHOLATI WA MIN DZURIYYATI, ROBBANA WA TAQOBAL DOA, RABBANNAGH FIRLI WA LI WA LI DAYYA WA LI JAMIIL MUKMININA YAUMA YAQUMUL HISAB “ (ibrahim ; 40 -41)
Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab.

Doa Zakariya As

“RABBI LATADZARNI WA ANTA CHOIRUL WARISIN “ (an biya ; 89)
Ya Allah janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, sesungguhnya engkau pemberi waris yang paling baik

“ROBBI HABLI MILADUNKA DURIYATTAN, THOYIBATAN INNAKA SAMI’UD DU’A “ (ali imron;28)
Ya Tuhan berilah aku seorang anak yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau maha pendengar Doa

Doa Musa As

“RABIS SHROHLI SHODRI WA YA SHIRLI AMRI WAH LUL UQDATAM MIL LISSANI YAH KHOHU KHOULI “ (Thoha ; )
Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku, dan lancarkanlah lidahku serta mudahkanlah urusanku

“RABBI INNI DHOLAMTU NAFSI FA FIRLHI “ (al qhosos ; 16)
Ya Allah aku menganiaya diri sendiri, ampunilah aku

“ RABBI NAJ JINI MINAL QUMID DHOLIMIN “
Ya Tuhan lepaskanlah aku dari kaum yang dholim

“RABBI INI LIMA ANZALTA ILLAYYA MIN KHOIRIN FAQIR “ (al qhosos; 24)
Ya Tuhanku sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku

“RABBI FIRLI WA LI AKHI WA ADKHILNA FI ROHMATIKA, YA ARHAMAR ROKHIMIN “
Ya Tuhanku ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau Maha Penyayang diantara yang menyayangi

Doa Isa As 

“RABBANA ANZIL ALAINA MA IDATAM MINAS SAMAI TAQUNU LANA IDZAL LI AWALINA, WA AKHIRINA, WA AYYATAM MINKA WAR ZUKNA WA ANTA KHOIRU ROZIQIN “ ( al maidah ; 114)
Ya Tuhanku turunkanlah pada kami hidangan dari langit, yang turunnya akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang – orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rejeki dan Engkaulah pemberi rejeki yang paling baik.

Doa Syuaib As  

"RABBANA TAF BAINANA, WA BAINA KAUMINA BIL HAQQI , WA ANTA KHOIRUL FATIHIN “ (A araf; 89)
Berilah keputusan diantara kami dan kaum kami dengan adil, Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik – baiknya.

Doa Ayyub As  

"ROBBI INNI MASYANIYAD DURRU WA ANTA ARHAMUR ROHIMIN “
Bahwasanya aku telah ditimpa bencana, Engkaulah Tuhan yang paling penyayang diantara penyayang.

Doa Sulaiman As  

"ROBBI AUZIDNI AN ASKHURO NI’MATAKALLATI AN AMTA ALLAYA WA ALA WA LI DAYYA WA AN A’MALA SHOLIKHAN TARDHOHU WA AD KHILNI BIRROHMATIKA FI IBADIKAS SHOLIKHIN “ (an naml; 19)
Ya Tuhan kami berilah aku ilham untuk selalu mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada kedua ibu bapakku dan mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridloi, dan masukkanlah aku dengan rahmatMu kedalam golongan hamba-hambMu yang Sholeh.

Doa Luth As

“RABBI NAJ JINI WA AHLI MIMMA YA’MALUN “
Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari perbuatan yang mereka kerjakan

“ROBBIN SURNI ALAL KAUMIL MUFSIDIN “ (assyu araa ; 169)
Ya Tuhanku tolonglah aku dari kaum yang berbuat kerusakan

Doa Yusuf As

“FATIRAS SAMAWATI WAL ARDLI ANTA FIDDUNYA WAL AKHIRO TAWWAFFANI MUSLIMAN WA AL HIQNI BISSHOLIHIN “ (yusuf ; 101)
Wahai pencipta langit dan bumi Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat wafatkanlah aku dalam keadaan pasrah (islam), dan masukkanlah aku dengan orang – orang sholeh.

Doa Muhammad SAW

“RABBANA ATINA FIDDUNYA HASANAH WA FIL AKHIROTI HASSANAH WA QINA ADZA BANNAR “
Ya Tuhanku berikanlah aku kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah aku dari api neraka

“RABBANA LATUZIG QULLUBANA BA’DAIDZ HADDAITANA WAHABBLANA MILADUNKA, ROHMATAN INNAKA ANTAL WAHAB” (Ali Imron)
Ya Tuhanku janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan berilah kami rahmat, sesungguhnya Engkau adalah dzat yang banyak pemberiannya.

Doa lainnya ……………………………

Do’a Nabi IBRAHIM AS
AL BAQARAH (2): 126-129
Ash Shaaffaat (37): 100
Al Mumtahanah(60): 4-5
IBRAHIM (14): 35-41
MARYAM (19): 47

Do’a Nabi MUSA AS
Yunus (10): 88
THAA-HAA (20): 25-35
Al Qashash (28): 16
Al Qashash (28): 21-22
Al Qashash (28): 24
AL A’RAAF (7): 151
AL A’RAAF (7): 155

Do’a Nabi NUH AS
HUUD (11): 47
AL MU’MINUUN (23): 26
AL MU’MINUUN (23): 28-29
ASY SYU’ARAA’(26): 117-118
Al Qamar (54): 10
NUH (71): 26

Do’a Nabi YUSUF AS
YUSUF (12): 101

Do’a Nabi ZAKARIA
MARYAM (19): 3-6
ALANBIYAA’ (21) :89
ALI ‘IMRAN (3): 38

Do’a MARYAM, ibu dari Nabi Isa AS
MARYAM (19): 18

Do’a istri ‘IMRAN
ALI ‘IMRAN (3): 36

Do’a Nabi AYYUB AS
Al Anbiyaa’ (21): 83
Shaad (38): 41

Rabu, 13 Juni 2012

Berlomba Mendekati Allah

Ibnu Athaillah mengatakan, “sungguh mengherankan orang yang lari dari Dzat yang ia tidak dapat pisah dari-Nya. Lantas mencari sesuatu yang ia tidak menjadi kekal bersamanya. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.”
Betapa tidak pernah kita mampu berdiri sendiri tanpa-Nya. Bahkan menghirup nafas dan semua yang kita lakukan juga terjadi dalam tubuh kita adalah atas izin-Nya. Bukankah Allah telah memiliki segalanya? Terus apa yang akan kita lakukan?
Memang Allah yang memiliki segalanya, yang kita lakukan adalah memohon, meminta dan mendekat pada-Nya agar selalu ada dalam dekapan-Nya. Karena kita tahu akan kelemahan diri dan segala ketidakberdayaan diri ini, maka selayaknya kita meminta kepada Sang Pemilik segalanya.
Hari ini, detik ini dan saat inilah waktunya kita kembali untuk merapatkan diri pada-Nya lagi. Karena kita tidak tahu lagi akan sampai kapan umur ini? Karena undangan itu tidak dapat di tangguhkan dan ditawar lagi. Berharap saat Allah menjemput kita nanti dalam perjumpaan yang paling indah, dalam keadaan iman dan Islam yang paling baik. Khusnul khatimah adalah tujuan kita kebaikan di akhir hidup kita, dan berharap surga yang terindah yaitu surga firdaus tempat para kekasih-Nya di kumpulkan-Nya.
Setiap waktu mencoba mengingat apa yang telah diperbuat diri ini kepada Allah? Apa yang akan dipersembahkan kepada Sang Khaliq? Menanyakan kepada diri ini, lebih segan kepada manusia yang menggaji kita, atau yang menggerakkan hati si Bos untuk menggaji kita yaitu Allah?
Saat kita mampu mencintai Allah dan Allah mencintai kita, maka Allah akan perintahkan seluruh penduduk langit dan bumi untuk mencintai kita. Saat diri ini susah untuk mencari simpati makhluk-Nya, boleh jadi ada yang harus di perbaiki dengan hubungan kita dengan-Nya. Maka kita harus senantiasa menjaga kualitas dan kuantitas hubungan kita dengan Allah swt.
Ustadz Fathi Yakan dalam uraiannya menjelaskan 8 agenda beribadah yang penting agar kita bisa menjaga keimanan di zaman yang penuh fitnah ini.
Agenda pertama, Melakukan shalat 12 rakaat sunnah rawatib, yakni 2 rakaat sebelum subuh, 4 rakaat sebelum Zhuhur, 2 rakaat setelah Zhuhur, 2 rakaat setelah Maghrib dan 2 rakaat sesudah Isya’. Dalilnya, sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang shalat sunnah satu hari 12 rakaat, Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga.” (H.R. Muslim)
Agenda kedua, Shalat 2 rakaat di tengah malam. Manfaat yang di harapkan: Pengabulan doa, pengampunan dosa dan pemenuhan hajat serta keperluan. Dalilnya, sabda Rasulullah saw, “Allah swt turun setiap malam ke langit dunia. Di saat tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Ku-berikan permintaannya, dan siapa yang memohon ampunan pada-Ku, akan Ku-ampuni dia.” (HR. Bukhari)
Agenda ketiga, melakukan shalat Dhuha 2 rakaat, 4 rakaat atau 8 rakaat. Manfaat yang di harapkan: Memberi sedekah dari setiap persendian tulang dalam tubuh. Dalilnya, sabda Rasulullah saw dari Abi Dzar ra, ”Setiap persendian pada diri kalian harus di shadaqahkan. Setiap tasbih adalah shadaqah. Setiap tahmid adalah shadaqah, memerintah pada ma’ruf itu adalah shadaqah, melarang yang mungkar adalah shadaqah, semua itu akan terpenuhi dengan 2 rakaat yang dilakukan dalam shalat Dhuha.”(HR. Muttafaq’alaih)
Agenda keempat, membaca surat Al Mulk dan surat Al Qur’an yang lainnya. Dalilnya: sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya dalam Al Qur’an terdapat satu surat yang terdiri dari 30 ayat. Surat itu bisa member syafaat kepada seseorang hingga diampuni dosa-dosanya. Yakni surat yang awalnya berbunyi, ”Tabarokalladzi biyadihil Mulk.”(HR. Tirmidzi dan Ahmad, Tirmidzi mengatakan ini hadits hasan)
Agenda kelima, mengatakan “Laa ilaah illallah wahdahu laa syariika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai in qodiir” seratus kali. Dalilnya, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengatakan “Laa ilaah illallah wahdahu laa syariika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai in qodiir” Dalam seratus kali, maka itu sama dengan membebaskan 10 orang budak, menuliskan seratus kebaikan, menghapus 100 kesalahan dan akan menjadi pelindung baginya dari syaitan pada hari itu sampai tiba waktu sore. Dan tidak ada seorang pun yang bisa memperoleh sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah dilakukannya itu kecuali bila da seorang yang mengerjakan lebih baik dari itu.” (HR. Muslim)
Agenda keenam, mengucapkan shalawat atas Rasulullah saw dalam jumlah yang tidak di tentukan. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan mendoakan sebanyak 10 kali (HR. Muslim).”Orang yang kikir adalah yang bila disebutkan di sisi namaku, tapi dia tidak mengucapkan shalawat atasku.”(HR. Tirmidzi, dia mengatakan hadits ini hasan gharib shahih)
Agenda ketujuh, mengucapkan “Subhanallah wa bihamdihi, subhanallahil azhiim” dalam jumlah yang tidak ditentukan. Sabda Rasulullah saw, barang siapa mengucapkan  “Subhanallah wa bihamdihi, subhanallahil azhiim” akan di tanamkan untuknya pohon kurma di surga. (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan gharib)
Agenda kedelapan, mengucapkan “Astaghfirullahal azhiim” dalam jumlah yang tidak ditentukan. Sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang membiasakan beristighfar maka Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan baginya, dan akan diberikan kelapangan dari kecemasan dan didatangkan rezki dari arah yang tidak di sangka-sangka,” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim dengan sanad shahih)
Marilah bersama-sama kita meminta kepada Allah dan berlomba-lomba dalam kebaikan, agar Allah senantiasa memberikan petunjuk dan kekuatan kita untuk mengikuti petunjuk itu. Saat memasuki bulan berkah, bulan Rajab dan setelah itu Sya’ban lalu Ramadhan.
Bersama kita persiapkan ruhiyah kita, kekuatan dan kesabaran dalam ketaatan untuk menyambut Ramadhan yang mulia. Semoga Allah berkahi bulan Rajab dan Sya’ban kita dan sampaikan kita di bulan Ramadhan. Bulan-bulan ini adalah bulan pemanasan sebelum masuk ke bulan yang penuh berkah penuh rahmah dan setiap amalan digandakan pahalanya. Semoga Allah berikan kita kekuatan dan kesiapan iman menghadapi Ramadhan dan jadikan Ramadhan nanti lebih baik dari Ramadhan yang kemarin.
Bukankah Rasulullah dan para sahabat mempersiapkan Ramadhan 6 bulan sebelumnya. Maka saat ini, sebelum kita terlambat persiapkan diri dan mental kita. Uraian di atas dipetik dari buku “Mencari Mutiara Di Dasar Hati” yang dikarang bapak Muhammad Nursani.  Allahu a’lam bishowab.

Siapkah Anda (Istri) Kehilangan Suami...???

 
Betul! Judul itu ditujukan khusus untuk kaum ibu. Kaum yang secara kejiwaan, umumnya amat rentan bila harus kehilangan suami. Entah ditinggal mati suami atau karena kasus perceraian. Konon peristiwa yang paling memukul perasaan seorang wanita adalah, ketika ia harus kehilangan orang yang dicintainya. 
Kasus seorang lelaki yang mengalami shock berat lantaran kehilangan istri, barangkali terbilang langka. Jika betul ada seorang suami ditinggal minggat istri misalnya, mungkin ia hanya akan mengatakan, "Biarin aja. Emang gue pikirin!" 
Ada anggapan, seorang laki-laki ditinggal mati istri, hampir tak begitu menimbulkan persoalan besar. Jarang peristiwa itu sampai mengakibatkan guncangan bathin yang hebat pada laki-laki. Kecuali barangkali bagi mereka yang memiliki kenangan amat dalam dengan isteri mereka. Boleh jadi lantaran itulah muncul anekdot yang cukup akrab di kalangan kaum perempuan: "Ah, laki-laki sama! Sebelum kuburan isterinya kering, pasti ia sudah kawin lagi."
Tentu tidak selamanya asumsi itu benar. Anekdot tersebut hanya sebuah penggambaran, betapa beratnya bagi seorang wanita jika harus kehilangan suami. Tapi bahwa peristiwa seorang wanita bakal ditinggal mati suami, atau sebaliknya, hal itu adalah sebuah keniscayaan. Sesuatu yang aksiomatik. 
Tinggal masalahnya sekarang, bagaimana seorang istri harus menyadari bahwa hal itu pasti terjadi pada siapapun. Hanya sayangnya kaum ibu umumnya, jarang menghayati peristiwa yang tak pernah diharapkan, tapi pasti bakal datang itu. Tak pelak hal ini menjadi persoalan laten yang relatif cukup serius bagi kaum wanita tentunya. 
Perpisahan apapun namanya, terlebih dengan orang yang kita cintai, pasti tak pernah kita harapkan. Apalagi harus berpisah dengan suami. Bahkan jika mungkin kita ingin suami berada di sisi kita selamanya. Tapi realitas kehidupan selalu mengajarkan kita, bahwa "tamu tak diundang" bernama kematian itu acapkali datang secara mengejutkan. 
Sebut saja kisah Abdul Rozaq (40). Istrinya tak pernah menyangka laki-laki yang dicintai itu direnggut maut dengan cara mengenaskan. Subuh hari ia pamit keluar untuk membeli bahan-bahan roti. Tapi sebelum kesampaian niatnya, mobil Hijet yang dikemudikannya dihajar sebuah truk besar hingga meremukkan batok kepalanya. 
Jauh sebelum itu, Naimullah, seorang wartawan Harian Sinar Pagi mengalami nasib serupa. Ketika itu, Naimullah pamit pada istri dan anak-anaknya untuk shalat Jum'at. Tapi lama ditunggu hingga malam hari, tak kunjung pulang. Besoknya aparat menemukan jasad bapak tiga orang anak itu terbujur bersimbah darah dalam sebuah mobil.
Ilustrasi itu mungkin terlalu menakutkan. Tapi tidak, ini sebuah fakta yang harus kita jadikan ibroh. Sebab apapun yang namanya perpisahan (karena kematian atau perceraian) akan selalu menyisakan guncangan mental bagi pelakunya. Penelitian para psikolog anak dan keluarga membenarkan, betapa sulitnya kondisi seorang ibu di masa-masa pasca perpisahan. 
Mereka para ahli menuturkan, betapa pelik dan sukarnya para ibu menjawab dan menjaga kondisi bahtera keluarga yang kehilangan nakhodanya. Ibu-ibu, kata mereka, akan kehilangan retorika komunikasi untuk menjelaskan satu kalimat: "Ayah sudah tidak ada...!" Kondisi itu diperburuk oleh berbagai persoalan yang menuntut sikap dan jawaban yang tak boleh ditunda. Sebab sekali seorang ibu menunda tanpa strategi, jelas akan membawa dampak yang tidak baik terhadap anak. 
Betul, siapa yang bisa melarang dan membantah jika wanita membayangkan indah dan nikmatnya pernikahan? Bahwa menikah itu indah, kita tak akan menafikan premis itu. Tapi apakah mereka juga menyadari bahwa hanya melulu membayangkan keindahan tanpa memahami esensi pernikahan, terkadang bisa membawanya pada petaka?
Kenapa? Karena bayangan indah itu akan membawanya ke dunia persepsi yang rawan: menyenangi asesori tanpa memahami esensi. Apapun lapangan kehidupan, di sektor publik maupun domestik, adalah lahan ujian. Tak terkecuali pernikahan tentunya. Ia adalah arena ujian. Kadang kita diuji dengan kesenangan. Tapi adakalanya ujian itu mencekam. Ibarat berlayar di tengah laut, kerap angin dan cuaca begitu indah dan bersahabat menggerakkan bahtera kita. Namun sekali waktu tanpa kita harapkan, secara mendadak hujan dan badai memporakporandakan seisi bahtera. Begitulah hidup.
Allah mengingatkan hal itu;  "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan kebaikan dan keburukan sebagai ujian (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS 21:35).
Begitu banyak wanita yang mengalami shock ketika harus kehilangan suaminya. Yakni mereka yang mungkin hanya memandang pernikahan adalah asesori. Mulus perjalanannya dan menyenangkan, tanpa gangguan. Tapi ketika tiba-tiba ia harus dihadapkan pada kenyataan, suaminya meninggalkannya (untuk sementara atau selama-lamanya) jiwanya terguncang. Ia tak mau menerima kenyataan pahit itu. 
Syukur-syukur guncangannya tak terlalu lama. Tapi bila berlangsung konstan? Ini yang berbahaya. Ia mungkin akan berupaya memenuhi fantasi-fantasi tentang indahnya berumah-tangga sebagaimana pernah dialami bersama suaminya. Jika ini yang terjadi, seseorang bisa terjebak pada sekadar ingin melampiaskan fantasinya tanpa memandang rambu-rambu agama. Ia akan terjebak pada dunia asesori tanpa keinginan untuk memahami esensi. 
Pernahkah kita mencoba menyelami kisah seorang Siti Hajar yang amat monumental itu? Ketika ia ditinggal suaminya Ibrahim 'alaihis salam, di padang tandus terpencil dengan bayi merah yang masih berada dalam gendongannya. "Wahai kakanda, benarkah engkau akan pergi meninggalkan kami sendiri?" tanya wanita itu lirih. Ibrahim hanya mengangguk pelan, seraya pergi menjauhi istri dan anaknya.
Ibunda Hajar jelas penasaran dan cemas, lalu menghambur mengejar suaminya. "Benarkah yang menyuruhmu Allah?" desak wanita sholihat itu sekali lagi. "Benar!" jawab Ibrahim. 
"Kalau ini perintah Allah, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami," ujar Siti Hajar mantap. Lantas perasaan cemas itupun berubah jadi tenang dan pasrah. Wanita sholihat itu tidak lagi merengek setelah memahami esensi misi suaminya. Ini tidak lain karena ia sangat mengerti bahwa pertalian cinta antara dia dengan suaminya karena Allah semata. Dengan kata lain, ia telah menukik ke dalam esensi, bukan menggayut pada asesori.
Memang, Islam tak melarang seseorang untuk melampiaskan duka atas sebuah musibah, apapun jenisnya. Termasuk menangisi kehilangan suami. Tapi jangan terus larut dalam perasaan tanpa berpikir rasional dan proporsional. Bahwa masalah-masalah baru menyangkut kelangsungan keluarga perlu segera dipikirkan. Sehingga Rasulullah saw pernah melarang wanita ke kuburan, ketika para wanita tak mampu mengendalikan emosi kesedihannya. Tapi setelah itu (ketika wanita Makkah tidak lagi histeris menangisi kematian anggota keluarganya), ziarah kubur bagi wanita beliau izinkan. 
Satu lagi kisah seorang wanita tabi'in yang kehilangan suaminya. Ia bersikap pasrah tanpa emosional. Para kerabat suaminya justru yang bertanya cemas. "Apa Anda tidak khawatir atas kematian suami Anda?" Dijawab oleh si wanita, "Bukankah suami saya seorang yang 'tukang makan' bukan 'Pemberi Makan'?" jawabnya tenang, lantaran keyakinannya yang mantap bahwa Allah adalah Penggaransi rezeki yang sebenarnya. 
Dua penggal episod di atas, seyogyanya kita jadikan sebagai ibroh (pelajaran). Bahwa kemantapan iman dan kepahaman akan esensi hidup, membuat seseorang akan bersikap rasional dan proporsional. Akan membuat seseorang menjadi cerdas, peduli, dan cepat mengambil tindakan-tindakan realistis mengatasi berbagai problema hidup. 
Mungkinkah wanita bisa memiliki keteguhan hati dan sikap sebagaimana dimiliki Siti Hajar dan wanita generasi tabi'in itu? Sangat mungkin. Tapi tentunya, ini harus melalui sebuah proses pembinaan yang lama dan berkesinambungan tanpa putus. Karena itu membekali diri mengahadapi segala kemungkinan itu menjadi suatu kemestian dan keniscayaan. 
Bekal-bekal yang seyogyanya disiapkan para wanita antara lain; pertama bekal ruhiyah (spiritual). Dengan cara menjauhkan diri dari hal-hal yang tercela. Kemudian intens membaca Al Qur'an dan menciptakan komunitas yang bernuansa qur'ani. Menjaga malam-malam dengan amalan-amalan shalih. Sebisa mungkin menjauhkan diri dari dominasi emosional yang berlebihan. Selain itu selalu berupaya mensyukuri nikmat dan berpikir tentang masalah umat. 
Kedua, bekal fikriyah (akal dan wawasan), dengan banyak membaca buku-buku Islam, khususnya kisah-kisah ketegaran para shohabiyah, tabi'in, maupun tabi' tabi'in dalam menghadapi cobaan hidup. Tak kalah penting tentunya, mengikuti berbagai peristiwa yang terjadi di dunia Islam, terutama Palestina. Di situ kita akan dapatkan kisah-kisah sejati tentang betapa tegarnya para ibu di Palestina menghadapi kebiadaban dan kedegilan bangsa Yahudi. 
Ketiga, bekal faniyah (keterampilan), dengan cara mempelajari berbagai keterampilan yang cocok dengan kodrat wanita. Entah itu keterampilan manajemen bisnis, bahkan mungkin sampai perintisan ke arah menjadi juragan usaha katering misalnya. Atau keterampilan jurnalistik, mengajar, komputer, perbankan syari'at, sampai ke arah menjadi kepala sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. 
Paling tidak, ketiga hal itu perlu menjadi perhatian dan kudu disiapkan seorang wanita. Agar kemampuan spiritual, wawasan, dan keterampilan, menjadi benteng kokoh yang akan memproteksinya dari pikiran, niat, dan perilaku nyeleneh, saat harus menghadapi ujian berat. 
"Hidup bagaikan garis lurus. Ia tak pernah kembali ke masa yang lalu." Begitu pesan Bimbo dalam salah satu lirik lagunya. Hadapilah hidup ini dengan realistis dan penuh keberanian. Bismillah.(*)