Jumat, 14 Oktober 2011

Dosa Menggunung Disaat Kematian Datang


Banyak orang yang ajalnya datang ketika maksiat mereka menggunung .. entah pembunuhan, zina, khamar, riba, nyanyian, tidak shalat lima waktu berjamaah, ataupun tidak peduli pada risalah Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, dan menuntut ilmu.
Laa ilaaha illallah, betapa lalainya mereka!
Sehabis ditangkap, Sa'id bin Jubair dibawa menghadap al-Hajja bin Yusuf.
"Siapa namamu?", tanya Hajjaj mencemooh.
"Sa'id bin Jubair", ia menyahut.
"Bukan. Nama kamu adalah si Sial (Syaqi) bin Kusair".
"Ibuku lebih tahu namaku daripda engkau".
"Celaka kamu .. celaka pula ibumu," balas Hajjaj, sambil melanjutkan, "Demi Allah, kamu akan saya masukkan ke dalam api yang menyala-nyala". "Kalau aku tahu, kamu sanggup melakukannya, pasti engkau sudah kujadikan Tuhan!"
"Bawa sini harta kekayaan!" Didatangkanlah emas dan perak.
"Hajjaj," kata Sa'id, "Sekiranya kekayaan ini engkau kumpulkan untuk menyelamatkan dirimu dari azab yang pedih, alangkah bagusnya.Tapi, bila engkau melakukannya itu untuk riya dan ingin disebut orang, demi Allah tidak akan ada gunanya di sisi Allah sedikitpun," tukasnya.
"Bawa ke sini budak perempuan yang bisa bernyanyi," titah Hajjaj lagi. Sa'id menangis. "Apakah lagunya enak?" Hajjaj bertanya.
"Demi Allah, bukan! Aku menangis lantaran ada budak yang diperkerjakan untuk sesuatu yang bukan untuk ia diciptakan, dan lantaran kayu yang dijadikan alat musik untuk digunakan bermaksiat kepada Allah!"
"Alihkan dia dari arah kiblat!" ujar Hajjaj.
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ
Sa'id menyahut dengan membacakan firman-Nya, "Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah." (QS. al-Baqarah [2] : 115)
"Banting dia ke tanah," perintah Hajjaj.
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ
Tapi, Sa'id menjawab, "Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain." (QS. Thaha [20] : 55)
"Demi Allah, saya akan membunuh kamu dengan cara yang tidak pernah digunakan orang," ancam Hajjaj.
"Hajjaj, engkau boleh pilih cara sesukamu. Demi Allah, cara apapun yang engkau pilih membunuhku, niscaya Allah jua akan membunuhmu dengan seperti itu!" ujar Sa'id.
Sebelum dibunuh Sa'id berdo'a.
"Ya Allah, jangan biarkan dia menindas siapapun setelah aku mati!"
Kepala Sa'id pun dipenggal oleh Hajjaj. Hanya beberapa bulan kemudian, Hajjaj meronta-ronta, karena sakit sampai Allah membinasakannya.
Wahai kaum Muslimin, sebelum ajal datang, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan:
Pertama, hendaknya kita senantiasa mengingat kematian setiap waktu. Kita melakukan kelalaian tatkala kita lupa akan kematian, lupa tentang peristiwa sesudah mati. Kita melalaikan semua itu dan terperosok ke dalam maksiat, nafsu syahwat, syubhat, dan membuat Allah SWT marah.
Sampai-sampai sebagian anak muda, bila diingatkan tentang kematian mereka menjawab, "Biarkan kami hidup, makan, minum. Jangan rusak kesenangan kami..." Kematian telah mengeruhkan dunia, sehingga tidak menyisakan secuil kegembiraan pun pada orang-orang yang berhati nurani.
Ibnu Umar menasihati, "Bila waktu pagi, jangan tunggu waktu sore. Bila sore, jangan tunggu pagi. Pergunakan masa sehatmu untuk persiapan sewaktu kamu sakit. Pergunakan hidupmu untuk persiapan menghadapi kematian."
Wahai kaum Muslimin, segeralah melakukan taubatannasuha kepada Allah Ta'ala.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar [39] : 53)
Al-A'masy, ahli hadist kawakan, ditangisi anak-anaknya ketika ajalnya hampir menjemput. Ia pun berkata, "Janganlah kalian menangisiku! Demi Allah, selama enam puluh tahun lamanya aku tidak pernah ketinggalan takbiratul ihram bersama imam," tukasnya.
Sa'id Ibnu Musayyib, ketika sekarat berujar, "Alhamudililah. Selama empat puluh tahun, saya selalu berada di masjid Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, ketika muazin mengumandangkan azan."
Mereka mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan cara melakukan amal-amal shalih dan taubatannasuha. Wallahu'alam.

Pentingnya Untuk Tawadhu

Salah satu sifat utama yang harus melekat pada seorang mukmin adalah sifat tawadhu (rendah hati). Bahkan Allah menyebutkan bahwa hamba-hamba Sang Maha Rahman akan senantiasa berjalan di muka bumi dengan rendah hati tanpa ada rasa congkak dan sombong yang bersarang dalam dada mereka. Allah swt berfirman:
وعباد الرحمن الذين يمشون على الأرض هونا وإذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik." (QS. Al-Furqan [25] : 63)
Tawadhu’ adalah sifat mulia yang menjadikan seseorang tidak merasa lebih besar dari orang lain dan tidak merasa lebih tinggi dari yang lain. Bagi orang-orang yang tawadhu’ manusia lain sama posisinya dengan dirinya walaupun dia sedang berada dalam kedudukan tinggi dalam pandangan manusia. Orang-orang yang tawadhu’ menyadari bahwa kemuliaan seseorang bukan dilihat dari posisi dan jabatannya, bukan dari pangkat dan hartanya, kedudukan mereka di lihat dari ketakwaan yang melekat pada dirinya. Nilai dan kemuliaan seseorang di mata Allah adalah tergantung pada ketinggian takwanya, dan kekokohan imannya. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya:
يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat [49] : 13)
Ketawadhuaan seseorang tidak akan mengurangi kehormatannya dan tidak pula akan merendahkan kedudukannya. Bahkan sebaliknya, seseorang yang memiliki kedudukan tinggi dan posisi terhormat, kemudian berendah hati maka dia akan menjadi buah bibir di tengah masyarakat karena kerendahan hatinya yang sekaligus mengangkat derajatnya di mata manusia dan manusia tidak akan mendengki dan iri akan kedudukannya. Sebaliknya manusia yang tinggi kedudukannya dan tinggi hati pada manusia lainnya maka akan banyak orang yang iri padanya bahkan mereka menginginkan agar orang yang tinggi hati itu segera dicopot dari posisinya.
Marilah kita sama-sama menyimak dengan seksama sabda Nabi Muhammad Saw berikut:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
"Sedekah itu tidak mengurangi harta, dan tidaklah seseorang itu suka memberi maaf kecuali Allah angkat dia menjadi mulia, dan tidaklah seseorang berendah hati kecuali Allah akan angkat derajatnya." (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
Gambaran berikut akan memperjelas bagaimana sikap rendah itu mengangkat derajat seseorang. Adalah Khalifah Umar bin Khattab, pada suatu hari dia berjalan di tengah terik matahari sambil menutupkan selendangnya di kepalanya.
Saat itu lewatlah seorang anak muda yang menunggang seekor keledai. Berkatalah Umar padanya, “Wahai anak muda bawalah aku bersamamu!”
Maka turunlah anak muda itu dari keledainya dengan melompat seraya berkata, “Naiklah wahai Amirul mukminin!”
Melihat anak muda itu turun dari keledainya dan mempersilahkan dirinya naik sementara dia harus berjalan maka Umar berkata, ”Tidak! Naiklah engkau, dan bawalah aku di belakangmu.
Apakah engkau akan membawaku di tempat yang emput sementara engkau berjalan di atas tanah yang kasar?” Maka anak muda tadi menaiki keledainya dan memasuki Madinah sementara Umar berada di belakangnya dan penduduk Madinah melihat mereka.
Sebuah ketawadhu’an yang sangat dramatis, indah dan mengagumkan. Ketawadhu’an inilah yang kemudian menjadi cerita yang ditulis dengan tinta emas oleh para sejarawan setelah Umar meninggal ratusan tahun lamanya. Namanya tetap wangi semerbak karena sikapnya yang tawadhu’ ini.
Tapi lihatlah Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab yang juga berkedudukan tinggi di masanya, namun mereka kini menjadi cibiran bangsa-bangsa dan ummat manusia hingga akhir zaman. Mereka Allah rendahkan kedudukannya karena mereka meninggikan diri di hadapan manusia.
Kisah ini juga akan memberikan pelajaran bagi kita. Dalam sebuah riwayat yang dilansir oleh Ibnu Saad dari Tsabit dia berkata, "Pada saat Salman menjadi Gubernur Madain ada seseorang yang datang dari wilayah Syam dari kalangan Bani Tamim dengan membawa buah tiin. Sementara Salman memakai celana yang biasa dipakai orang non Arab dan sebuah baju panjang. Orang itu berkata kepada Salman, dan dia tidak mengetahuinya, 'Tolong bawakah ini,'—dia mengira bahwa Salman seorang tulang panggul. Maka Salman al-Farisi membawakan untuknya buah tiin itu sementara manusia manusia melihat dan mengenalinya seraya berkata, 'Ini gubernur kita'.”
Kedua orang sahabat Rasulullah saw yang meneguk ajaran sang Nabi itu sangat mengerti makna hidup rendah hati pada manusia lainnya termasuk pada rakyatnya dengan sepenuh hati dan jiwa. Mereka tidak pernah minta dinomersatukan, tidak pula ingin dipuja-puja, tidak minta untuk dikenal, tidak minta di kursi paling depan kalau ada pertemuan. Namun manusia tetap memberikan rasa hormat padanya karena memang mereka pantas untuk mendapat kehormatan itu. Mereka memiliki inner power yang menjadi magnet pribadinya.
Kisah Al-Makmun khalifah Nabi Abbas yang cerdas, rasanya pantas pula kita jadikan pelajaran bagaimana Al-Makmun memaknai kedudukannya sebagai abdi rakyat yang sebenarnya. Suatu hari Yahya bin Aktsam menjadi tamu Al-Makmun. Kemudian Al-Makmun berdiri untuk mengambilkan air baginya. Yahya kaget melihat apa yang dilakukan oleh khalifah kaum muslimin paling disegani di zamannya itu sambil bergumam bagaimana mungkin seorang Amirul Mukminin datang dengan membawakan air baginya sementara dia duduk di tempatnya. Melihat gelagat rasa tidak enak pada Yahya dan tanda tanya di mukanya Al-Makmun berkata, "Pemimpin sebuah kaum itu adalah pelayan mereka!" Indah sekali, bagaikan legenda. Namun itu kisah nyata.
Maka benarlah apa yang pernah dikatakan seorang penyair:
Berendah hatilah engkau bagaikan bintang yang ada di dalam bayangan air
Padahal sebenarnya dia berada di angkasa nan tinggi
Dan janganlah engkau jadi laksana asap yang membubung sendiri
Di atas awan, sementara sesungguhnya dia adalah rendah sekali
Suatu ketika Ali bin Abi Thalib membeli daging seharga satu dirham. Kemudian dia membawanya dalam bungkusan. Salah seorang sahabatnya berkata padanya, "Aku saja yang membawanya wahai Amirul Mukminin!" Namun Ali bin Abi Thalib dengan santun berkata, "Jangan! Sebab orang tua dalam keluarga itulah yang paling pantas membawakan itu!" Ali menegaskan bahwa tidaklah berkurang kesempurnaan seseorang karena membawakan barang milik keluarganya.
Maka marilah kita belajar dari orang-orang besar dengan jiwa besar itu. Mereka besar karena memiliki kepribadian yang besar, memiliki hati yang lapang dan paradigma yang benar tentang makna hidup manusia yang sesungguhnya. Saatnya kita belajar dari mereka tatkala negeri ini sedang membutuhkan peminpin dengan jiwa besar, dengan pikiran besar, dengan hati yang besar, dengan visi dan misi besar yang terbungkus rapi dalam ketawadhu’an yang sempurna.
Semoga kita bisa. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Masihkan Menyukai Maksiat?


Betapa banyaknya diantara manusia yang menghiasi hidupnya dengan maksiat. Tidak ada rasa takut, saat dimana kematian datangnya, dan dalam keadaan berlumuran dengan perbuatan maksiat. Betapa nasibnya kelak di akhirat, jika hidupnya selalu dihiasi dengan perbuatan maksiat.
Tetapi, sesungguhnya Allah Rabbul Alamin memerintahkan Nabi-Nya memohonkan ampunan bagi Mukmin. Allah berfirman:
الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ ﴿٧﴾ رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُم وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٨﴾ وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَن تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿٩﴾
"(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), 'Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar'." (QS. Al-Mukmin [40] : 7-9)
Itulah sebentuk do'a Malaikat bagi orang Mukmin yang bertaubat dan mengikuti ajaran al-Qur'an serta sunnah Rasul-Nya yang merupakan dua jalan keselamatan bagi mereka.
Sementara itu, ada orang-orang yang mempunyai 'hobi' melakukan maksiat, tanpa tahu memahami akibatnya yang timbul dari hobinya itu. Maksiat telah menimbulkan bahaya yang besar bagi para pelakunya. Di antaranya:
Pertama, maksiat telah menimbulkan kerusakan bermacam-macam di muka bumi.
Pengaruh perbuatan maksiat dapat menimbulkan kerusakan di lautan, di udara, di ladang, tempat-tempat tinggal. Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٤١﴾
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum [31] : 41)
Mujahid berkata, "Apabila orang yang zalim berkuasa, ia akan bertindak zalim dan membikin kerusakan. Sehingga Allah manahan turunnya hujan yang menyebabkan rusaknya tanam-tanaman dan keturunan. Allah tidak menyukai kerusakan.
Kedua, maksiat terjadinya gempa.
Di antara pengaruh maksiat terhadap bumi ialah, terjadinya gempa atau goncangan dan hilangya berkah. Rasulullah shallahu alaihi wassalam, pernah melewati reruntuhan perkampungan kaum Tsamud. Beliau melarang para sahabat memasuki reruntuhan perkampungan itu, kecuali dengan menangis. Beliau juga melarang meminum air mereka, dan memberi minum binatang-binatang dari sumur-sumur mereka.
Ketiga, maksiat menimbulkan pengaruh kesialan.
Imam Ahmad dalam kitabnya Al-Musnad menuturkan kutipan sebuah hadist, "Aku mendapatkan dalam tempat penyimpanan salah satu Dinasti Bani Umayyah, sebiji gandum sebesar butir korma. Ia berada di dalam sebuah kantong yang bertuliskan: "Ini akan tumbuh pada zaman keadilan". Banyak bencana yang diturunkan oleh Allah Ta'ala akibat dari perbuatan dosa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.
Keempat, maksiat berpengaruh terhadap rupa dan bentuk.
Imam Tirmidzi dalam kitabnya al-Jami' meriwayatkan sebuah hadist dari Rasulullah shallahu alaih wassalam, yang menyatkan sesunguhnya beliau bersabda,"Allah menciptakan Adam yang tingginya di langit mencapai enam puluh hasta. Lalu berangsur-angsur menyusut hingga seperti sekarang".
Apabila Allah ingin membersihkan bumi dari tindak kezaliman, kejahatan, dan pengkhianatan, Dia akan mengeluarkan seorang hamba-Nya dari kalangan keluarga Nabi-Nya Muhammad shallahu alaihi wassalam, lalu Dia memenuhi bumi dengan keadilan tidak seperti sebelumnya yang penuh kejahatan.
Kelima, maksiat dapat memadamkan api ghirah.
Sesungguhnya ghirah atau cemburu adalah lambang kehidupan hati dan sumber kemaslahatannya. Membaranya api ghirah itu, seperti panasnya insting bagi kehidupan seluruh raga. Jika seorang merasa antipati terhadap dosa, dari hatinya akan keluar ghirah yang kuat terhadap dirinya sendiri, terhadap keluarganya dan terhadap orang lain. Tetapi, kalau ghirah di hati lemah, ia tidak mau menganggap buruk sesuatu yang jelas-jelas buruk.
Jika sudah pada tingkatan seperti itu, maka ini adalah pertanda kehancuran. Banyak orang yang tidak mau menganggap kezaliman dan kejahatan sebagai sesuatu yang buruk. Bahkan sebaliknya menganggap sesuatu yang baik. Semua karena maksiat.
Keenam, maksiat menghilangkan rasa malu di hati.
Rasa malu adalah pangkal seluruh kebajikan. Jika rasa malu hilang, maka hilang pula seluruh kebajikan. Rasulullah shallahu alaihi wassalam, "Rasa malu seluruhnya adalah kebajikan".
Sesungguhnya dosa dapat memperlemah rasa malu seseorang, bahkan terkadang bisa melenyapkannya secara total. Sehingga ia sudah tidak mau peduli dan terpengaruh terhadap keadaan dirinya yang dilihat serta diketahui banyak orang. Sekalipun sudah banyak orang yang menegurnya.
Ketujuh, maksiat melemahkan semangat hati seseorang untuk mengagungkan Allah.
Sesungguhnya perbuatan maksiat itu dapat melemahkan penghormatan seseorang kepada Tuhannya, dan hal ini sudah pasti terjadi. Mau tida mau. Sepanjang seseorang masih mau menghormati dan mengagungkan Allah, ia tidak akan berani berbuat maksiat kepadanya.
Kedelapan, maksiat menghilangkan rasa takut kepada Allah dalam hati.
Akibat perbuatan maksiat, Allah akan mencabut rasa takut kepada-Nyadari hati seseorang. Karena ia sudah berani mengabaikan perbuatan maksiat, maka Allahpun membalas dengan mengabaikannya. Sepanjang seorang hamba mau mencintai Allah, ia akan tetap dicintai oleh manusia. Sepanjang ia segan kepada Allah, ia pun akan disegani oleh mereka.
...وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ...
"Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya". (QS. Al-Hajj [22] : 18)
Kesembilan, maksiat mengeluarkan seorang hamba dari wilayah ihsan dan terhalang untuk memperoleh pahala orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya apabila kebaikan bersemayam di dalam hati seseorang, ia akan mencegahnya dari berbuat maksiat. Sehingga, kalau sedang menyembah Allah, ia seakan-akan melihat-Nya. Hal itu terjadi karena hatinya selalu mengingat, mencintai, dan berharap-harap cemas kepada Allah, sehingga seolah-olah ia dapat menyaksikan-Nya.
"Sesungguhnya permohonan ampunan para Malaikat pemikul Arasy". (QS. Al-Mukminun [40] : 7)
Kesepuluh, maksiat melemahkan perjalanan hati kepada Allah dan negeri akhirat.
Perbuatan maksiat itu dapat menghambat, atau bahkan menghentikan, atau membatalkan perjalanan ke arah tujuan yang mulia. Sehingga, tidak akan ada langkah barang setapak pun ke sana. Malah celakanya bisa mengundurkan langkah ke belakang.
Dosa itu bisa mematikan hati, atau bisa membuatnya menderita suatu penyakit yang sangat mengerikan, atau yang pasti ia akan melemahkan kekuatannya sehingga, dapat menimbulkan delapan hal negatif, yang Nabi shallahu alaihi wassalam, selalu memohon perlindungan daripadanya, yakni bingung, sedih, lemah, malas, pengecut, kikir, rongrongan hutang, dan pemaksaan orang kuat.
Dosa adalah faktor utama yang seseorang mengalami ke delapan hal tesebut, disamping dapat mendatangkan situasi yang genting.
Kesebelas, maksiat dapat menghilangkan kenikmatan dan mengundang siksa.
Dosa faktor utama yang paling potensial menghilangkan nikmat dari seseorang dan mengundang murka atau siksaan Allah. Firman Allah:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ﴿٣٠﴾
"Dan apa saja musibah yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)". (QS. Asy-Syura [42] : 30)
Meskipun, demikian masih banyak manusia yang tidak mau meninggalkan dosa dan maksiat, yang akhirnya menimbulkan penyesalan di hari akhirat.
Wallahu'alam.