Luth hidup sejaman dengan Ibrahim. Luth diutus sebagai rasul atas salah
satu kaum tetangga Ibrahim. Kaum ini, sebagaimana diutarakan oleh Al
Quran, mempraktikkan perilaku menyimpang yang belum dikenal dunia saat
itu, yaitu homoseksual. Ketika Luth menyeru mereka untuk menghentikan
penyimpangan tersebut dan menyampaikan peringatan Allah, mereka
mengabaikannya, mengingkari kenabiannya, dan meneruskan penyimpangan
mereka. Pada akhirnya kaum ini dimusnahkan dengan bencana yang
mengerikan.

Kota kediaman Luth, dalam Perjanjian Lama disebut sebagai kota Sodom.
Karena berada di utara Laut Merah, kaum ini diketahui telah dihancurkan
sebagaimana termaktub dalam Al Quran. Kajian arkeologis mengungkapkan
bahwa kota tersebut berada di wilayah Laut Mati yang terbentang
memanjang di antara perbatasan Palestina-Yordania.
Sebelum mencermati sisa-sisa dari bencana ini, marilah kita lihat
mengapa kaum Luth dihukum seperti ini. Al Quran menceritakan bagai-mana
Luth memperingatkan kaumnya dan apa jawaban mereka:
“Kaum Luth telah mendustakan rasulnya,
ketika saudara mereka Luth, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak
bertakwa?”. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang
diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku
tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi
jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang
dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui
batas. Mereka menjawab “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak
berhenti, benar-benar kamu termasuk orang yang diusir”. Luth berkata
‘Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu’.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 160-168 )
Sebagai jawaban atas ajakan ke jalan yang benar, kaum Luth justru
mengancamnya. Kaumnya membenci Luth karena ia menunjuki mereka jalan
yang benar, dan bermaksud menyingkirkannya dan orang-orang yang beriman
bersamanya. Dalam ayat lain, kejadian ini dikisahkan sebagai berikut:
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth
(kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa
kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (homoseksual) itu, yang belum
pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”.
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada
mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui
batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth
dan para pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” (QS. Al A’raaf, 7: 80-82)
Luth menyeru kaumnya kepada sebuah kebenaran yang begitu nyata dan
memperingatkan mereka dengan jelas, namun kaumnya sama sekali tidak
mengindahkan peringatan macam apa pun dan terus menolak Luth dan tidak
mengacuhkan azab yang telah ia sampaikan kepada mereka:
“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada
kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat
keji yang sebelumnya belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari
umat-umat sebelum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki,
menyamun, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?”
Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada
kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” ( QS. Al ‘Ankabuut, 29: 28-29)
Karena menerima jawaban sedemikian dari kaumnya, Luth meminta pertolongan kepada Allah.
“Ia berkata: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.” (QS. Al ‘Ankabuut, 29: 30)
“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26:169)
Atas doa Luth tersebut, Allah mengirimkan dua malaikat dalam wujud
manusia. Kedua malaikat ini mengunjungi Ibrahim sebelum mendatangi Luth.
Disamping membawa kabar gembira kepada Ibrahim bahwa istrinya akan
melahirkan seorang jabang bayi, kedua utusan itu menjelaskan alasan
pengiriman mereka: Kaum Luth yang angkara akan dihancurkan:
“Ibrahim bertanya, “Apakah urusanmu hai
para utusan?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum
yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu
dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk
(membi-nasakan) orang-orang yang melampaui batas” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51: 31-34)
“Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya.
Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanya, kecuali istrinya.
Kami telah menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang
yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).” (QS. Al Hijr, 15: 59-60)
Setelah meninggalkan Ibrahim, para malaikat yang dikirim sebagai utusan
lalu mendatangi Luth. Karena belum pernah bertemu utusan sebelumnya,
Luth awalnya merasa khawatir (karena tamunya laki-laki, Luth takut
kaumnya melakukan perbuatan sodomi itu terhadap tamunya), namun kemudian
ia merasa tenang setelah berbicara dengan mereka.
“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami
(para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit
dadanya karena keda-tangan mereka, dan dia berkata, “Inilah hari yang
amat sulit.” (QS. Huud, 11: 77)
“Ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah
orang-orang yang tidak dikenal”. Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami
ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan
kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami
betul-betul orang yang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan
membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah
seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah
perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu”. Dan Kami telah
wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas
habis di waktu subuh.” (QS. Al Hijr, 15 : 62-66)
Sementara itu, kaum Luth telah mengetahui bahwa ia kedatangan tamu.
Mereka tidak ragu-ragu untuk mendatangi tamu-tamu tersebut dengan niat
buruk sebagaimana terhadap yang lain-lain sebelumnya. Mereka mengepung
rumah Luth. Karena khawatir atas keselamatan tamunya, Luth berbicara
kepada kaumnya sebagai berikut:
“Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah
tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah
kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.” (QS. Al Hijr, 15 : 68-69)
Kaum Luth menjawab dengan marah:
“Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia.” (QS. Al Hijr, 15: 70)
Merasa bahwa ia dan tamunya akan mendapatkan perlakuan keji, Luth berkata:
“Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk
menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat
(tentu akan aku lakukan).” (QS. Huud, 11: 80)
“Tamu”-nya mengingatkannya bahwa sesungguhnya mereka adalah utusan Allah dan berkata:
“Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth,
sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka
tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa
keluarga dan pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun
di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan
ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab
kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” (QS. Huud, 11 : 81)
Ketika kelakuan jahat warga kota memuncak, Allah menyelamatkan Luth
dengan perantaraan malaikat. Pagi harinya, kaum Luth dihancurleburkan
dengan bencana yang sebelumnya telah ia sampaikan.
“Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya
(agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata
mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya
pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.” (QS. Al Qamar, 54: 37-38)
Ayat yang menerangkan penghancuran kaum ini sebagai berikut :
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras
yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian
atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu
belerang yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang meperhatikan
tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan
yang masih tetap (dilalui manusia).” (QS. Al Hijr, 15: 73-76)
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami
jadikan negeri kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan
Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara
bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah
jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Huud, 11: 82-83)
“Kemudian Kami binasakan yang lain, dan
Kami hujani mereka dengan hujan (batu belerang), maka amat kejamlah
hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.
Sesungguh-nya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti
yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan
sesung-guhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha
Penyayang.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 172-175)
Ketika kaum tersebut dihancurkan, hanya Luth dan pengikutnya, yang tidak
lebih dari “sebuah keluarga”, yang diselamatkan. Istri Luth sendiri
juga tidak percaya, dan ia juga dihancurkan.
“Dan (Kami juga yang telah mengutus) Luth
(kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa
kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan
oleh seorang pun (di dunia ini) sebelumnya?”. Sesungguhnya kamu
mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada
wanita, malah kamu ini adalah kaum yang me-lampaui batas. Jawab kaumnya
tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan
pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri”. Kemudian Kami selamatkan
dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang
yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan
(batu belerang), maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang
memperturutkan dirinya dengan dosa dan kejahatan itu.” (QS. Al A’raaf, 7: 80-84)

Demikianlah, Nabi Luth diselamatkan bersama para pengikut dan
keluarganya, kecuali istrinya. Sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian
Lama, ia (Luth) berimigrasi bersama Ibrahim. Akan halnya kaum yang sesat
itu, mereka dihancurkan dan tempat tinggal mereka diratakan dengan
tanah.
Nabi Luth kemudian berdiam di Lembah dekat kota Sodom. Jadi kota Sodom
seharusnya sudah cukup mapan saat Luth pindah ke sana. Apabila Kota
Sodom itu merupakan pemukiman khas jaman perunggu, berarti setidaknya
ada kurang lebih 1000 orang yang tinggal di balik dinding kota tersebut.
Tak ada yang menemukan petunjuk kota seperti itu pernah ada, sebab tak
pernah ada orang yang sungguh-sungguh mencari-nya. Hingga pada tahun
1924, Ahli purbakala bernama William Albright berangkat menuju ke Laut
Mati untuk melakukan penelitian disana. Beberapa orang yang bersamanya
jelas mencari keberadaan sisa-sisa Sodom dan Gomora. Mereka mengitari
pantai tenggara dari laut mati hingga mereka ahirnya tiba di sutus
purbakala Bab-edh-dhra.

Bab-edh-dhra (dibaca : Babhedra), merupakan situs jaman perunggu, namun
tak ada petunjuk jika situs itu meupakan suatu kota. Tampaknya daerah
itu merupakan suatu daerah pemakaman. Namun Albright tak memiliki
sumber
daya untuk menggalinya. Jadi hampir 50 tahun berlalu sebelum ada yang
kembali ke situs tersebut untuk melakukan penggalian. Ahli Purbakala
Paul Lapp memimpin penggalian di tahun 1967, dan Thomas Schaub termasuk
salah satu penggalinya.

Bab-edh-dhra merupakan makam terbesar khas jaman perunggu yang mereka
gali, panjangnya 15 meter dan lebarnya 7 meter. Disini mereka juga
menemukan makam berisi perhiasan emas dan menggali lebih 700 tembikar
yang merupakan hadiah penguburan termasuk tempat parfum kecil dan banyak
benda lain seperti kain. Situs ini sungguh menakjubkan, makam ini telah
digunakan selama 1000 tahun lamanya, dari zaman Ibrahim hingga
penghancuran Sodom. Namun, tak ada apapun untuk mengaitkan pemakaman
kuno itu dengan Sodom.
Misterinya, sekitar tahun 2350 SM, penguburan itu mendadak berhenti tak
ada yang tahu mengapa. Ada sejumlah sebab mengapa suatu situs tak
ditempati lagi, beberapa bisa disimpulkan, beberapa lagi tidak. Penyebab
pada umumnya mungkin persediaan air mengering, lingkungan berubah,
iklim berubah atau orang-orangnya dibasmi total.
Selama beberapa musim, ahli purbakala memperluas pencarian mereka untuk
mencari tanda-tanda kota yang hilang. Tak lama kemudian mereka menemukan
sesuatu, ada jejak kehidupan manusia di sisi bukit yang menghadap ke
arah pemakaman. Banyak batu tersusun membentuk tembok yang mereka
temukan disana, pecahan-pecahan tembikar dan sisa-sisa tanah liat yang
sangat banyak. Itulah awal langkah mereka untuk mencari jejak Sodom dan
Gomora seperti yang dikisahkan di dalam kitab suci.
“TANDA-TANDA YANG NYATA” DI DANAU LUTH
Ayat ke-82 Surat Huud dengan jelas menyebutkan jenis bencana yang
menimpa kaum Luth. “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri
Kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka
dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi.”

Pernyataan “menjungkirbalikkan (kota)” bermakna kawasan tersebut
diluluhlantakkan oleh gempa bumi yang dahsyat. Sesuai dengan ini, Danau
Luth, tempat penghancuran terjadi, mengandung bukti “nyata” dari
bencana tersebut.
Kita kutip apa yang di-katakan oleh ahli arkeologi Jerman bernama Werner Keller, sebagai berikut:
Bersama dengan dasar dari retakan yang sangat lebar ini, yang persis
melewati daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorrah, dalam
satu hari terjerumus ke kedalaman. Kehancuran mereka terjadi melalui
se-buah peristiwa gempa bu-mi dahsyat yang mung-kin disertai dengan
letus-an, petir, keluarnya gas alam serta lautan api.
Malahan, Danau Luth, atau yang lebih dikenal dengan Laut Mati, terletak tepat di puncak suatu kawasan seismik aktif, yaitu daerah gempa bumi.
Dasar dari Laut Mati berdekatan dengan runtuhan yang berasal dari
peristiwa tektonik. Lembah ini terletak pada sebuah tegangan yang
merentang antara Danau Taberiya di Utara dan tengah-tengah Danau Arabah
di Selatan.
Peristiwa tersebut dilukiskan dengan “Kami menghujani mereka dengan batu
belerang keras sebagaimana tanah liat yang terbakar secara
bertubi-tubi” pada bagian akhir ayat. Ini semua mungkin berarti letusan
gunung api yang terjadi di tepian Danau Luth, dan karenanya cadas dan
batu yang meletus berbentuk “terbakar” (kejadian serupa diceritakan
dalam ayat ke-173 Surat Asy-Syu’araa’ yang menyebutkan: “Kami menghujani
mereka (dengan belerang), maka amat kejamlah hujan yang menimpa
orang-orang yang telah diberi peringatan itu.”)
Berkaitan dengan hal ini, Werner Keller menulis :
"Pergeseran patahan membangkitkan
tenaga vulkanik yang telah tertidur lama sepanjang patahan. Di lembah
yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menjulang
dari gunung api yang sudah mati; bentangan lava yang luas dan lapisan
basal yang dalam yang telah terdeposit pada permukaan batu kapur."

Lava dan lapisan basal merupakan bukti terbesar bahwa letusan gunung api
dan gempa bumi pernah terjadi di sini. Bencana yang dilukiskan dengan
ungkapan “Kami menghujani mereka dengan batu belerang keras sebagaimana
tanah liat yang terbakar secara bertubi-tubi” dalam Al Quran besar
kemungkinan menunjuk letusan vulkanis ini, dan Allah-lah Yang Mahatahu.
Ungkapan “Ketika firman Kami telah terbukti, Kami jungkir-balikkan
(kota)”, dalam ayat yang sama, mestilah menunjuk pada gempa bumi yang
mengakibatkan letusan gunung api di atas permukaan bumi dengan akibat
yang dahsyat, serta retakan dan reruntuhan yang diakibatkannya, dan
hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.
“Tanda-tanda nyata” yang disampaikan oleh Danau Luth tentu sangat
menarik. Umumnya, kejadian yang diceritakan dalam Al Quran terjadi di
Timur Tengah, Jazirah Arab, dan Mesir. Tepat di tengah-tengah semua
kawasan ini terletak Danau Luth. Danau Luth, serta sebagian peristiwa
yang terjadi di sekitarnya, patut mendapat perhatian secara geologis.
Danau tersebut diperkirakan berada 400 meter di bawah permukaan Laut
Tengah. Karena lokasi terdalam dari danau tersebut adalah 400 meter,
dasarnya berada di kedalaman 800 meter di bawah Laut Tengah. Inilah
titik yang terendah di seluruh permukaan bumi. Di daerah lain yang lebih
rendah dari permukaan laut, paling dalam adalah 100 meter. Sifat lain
dari Danau Luth adalah kandungan garamnya yang sangat tinggi,
kepekatannya hampir mencapai 30%. Oleh karena itu, hampir tidak ada
organisme hidup, yang dapat hidup di dalam danau ini. Hal inilah yang
menyebabkan Danau Luth dalam literatur-literatur Barat lebih sering
disebut sebagai ” Laut Mati”.
Kejadian yang menimpa kaum Luth yang disebutkan dalam Al Quran,
berdasarkan perkiraan terjadi antara rentang waktu 2500 - 1.800 SM.
Berdasarkan pada penelitian arkeologis dan geologis, peneliti Jerman
Werner Keller mencatat bahwa kota Sodom dan Gomorah benar-benar berada
di lembah Siddim yang merupakan daerah terjauh dan terendah dari Danau
Luth, dan bahwa pernah terdapat situs yang besar dan dihuni di daerah
itu.
Karakteristik paling menarik dari struktur Danau Luth adalah bukti yang
menunjukkan bagaimana peristiwa bencana yang diceritakan dalam Al Quran
terjadi

Pada pantai timur Laut Mati, semenanjung Al Lisan menjulur seperti lidah
jauh ke dalam air. Al Lisan berarti “lidah” dalam bahasa Arab. Dari
daratan tidak tampak bahwa tanah berguguran di bawah permukaan air pada
sudut yang sangat luar biasa, memisahkan laut menjadi dua bagian. Di
sebelah kanan semenanjung, lereng menghunjam tajam ke kedalaman 1200
kaki. Di sebelah kiri semenanjung, secara luar biasa kedalaman air tetap
dangkal. Penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir ini
menunjukkan bahwa kedalamannya hanya berkisar antara 50 – 60 kaki.
Bagian dangkal yang luar biasa dari Laut Mati ini, mulai dari
semenanjung Al Lisan sampai ke ujung paling Selatan, dulunya merupakan
Lembah Siddim.
Werner Keller menenggarai bahwa bagian dangkal ini, yang ditemukan
terbentuk belakangan, merupakan hasil dari gempa bumi dahsyat yang telah
disebutkan di atas. Di sinilah Sodom dan Gomorah berada, yakni tempat
kaum Luth pernah hidup.
Suatu ketika, daerah ini dapat dilintasi dengan berjalan kaki. Namun
sekarang, Lembah Siddim, tempat Sodom dan Gomorah dahulunya berada,
ditutupi oleh permukaan datar bagian Laut Mati yang rendah. Ke-runtuhan
dasar danau akibat bencana alam mengerikan yang terjadi di awal milenium
ketiga sebelum Masehi mengakibatkan air garam dari utara mengalir ke
rongga yang baru terbentuk ini dan memenuhi lembah sungai dengan air
asin.

Jika seseorang bersampan melintasi Danau Luth ke titik paling utara dan
matahari sedang bersinar pada arah yang tepat, maka ia akan melihat
sesuatu yang sangat menakjubkan. Pada jarak tertentu dari pantai dan
jelas terlihat di bawah permukaan air, tampaklah gambaran bentuk hutan
yang diawetkan oleh kandungan garam Laut Mati yang sangat tinggi. Batang
dan akar di bawah air yang berwarna hijau berkilauan tampak sangat
kuno. Lembah Siddim, di mana pepohonan ini dahulu kala bermekaran
daunnya menutupi batang dan ranting merupakan salah satu tempat terindah
di daerah ini. Aspek mekanis dari bencana yang menimpa kaum Luth
diungkapkan oleh para peneliti geologi. Mereka mengungkapkan bahwa gempa
bumi yang menghancurkan kaum Luth terjadi sebagai akibat rekahan yang
sangat panjang di dalam kerak bumi (garis patahan) sepan-jang 190 km
yang membentuk dasar sungai Sheri’at. Sungai Sheri’at membuat air terjun
sepanjang 180 meter keseluruhannya. Kedua hal ini dan fakta bahwa
Danau Luth berada 400 meter di bawah permukaan laut adalah dua bukti
penting yang menunjukkan bahwa peristiwa geologis yang sangat hebat
pernah terjadi di sini.
Struktur Sungai Sheri’at dan Danau Luth yang menarik hanya merupakan
sebagian kecil dari rekahan atau patahan yang melintas dari kawasan bumi
tersebut. Kondisi dan panjang rekahan ini baru ditemukan akhir-akhir
ini.
Rekahan tersebut berawal dari tepian Gunung Taurus, memanjang ke pantai
selatan Danau Luth dan berlanjut melewati Gurun Arabia ke Teluk Aqaba
dan terus melintasi Laut Merah, dan berakhir di Afrika. Di sepanjangnya
teramati kegiatan-kegiatan vulkanis yang kuat. Batuan basal hitam dan
lava terdapat di Gunung Galilea di Palestina, daerah dataran tinggi
Yordan, Teluk Aqaba, dan daerah sekitarnya.

Seluruh reruntuhan dan bukti geografis tersebut menunjukan bahwa bencana
geologis dahsyat pernah terjadi di Danau Luth. Werner Keller menulis:
"Bersama dengan dasar dari retakan
yang sangat lebar ini, yang persis melewati daerah ini, Lembah Siddim,
termasuk Sodom dan Gomorrah, dalam satu hari terjerumus ke kedalaman.
Kehancuran mereka terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi dahsyat
yang mungkin disertai dengan letusan, petir, keluarnya gas alam serta
lautan api. Pergeseran patahan membang-kitkan tenaga vulkanik yang telah
tertidur lama sepanjang patahan. Di lembah yang tinggi di Jordania
dekat Bashan masih terdapat kawah yang menjulang dari gunung api yang
sudah mati; bentangan lava yang luas dan lapisan basal yang dalam yang
telah terdeposit pada permukaan batu kapur."
National Geographic edisi Desember 1957 menyatakan sebagai berikut:
"Gunung Sodom, tanah gersang dan
tandus muncul secara tajam di atas Laut Mati. Belum pernah seorang pun
menemukan kota Sodom dan Gomorrah yang dihancurkan, namum para akademisi
percaya bahwa mereka berada di lembah Siddim yang melintang dari tebing
terjal ini. Kemungkinan air bah dari Laut Mati menelan mereka setelah
gempa bumi." (*)